Koranprabowo.id, Unik :
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah) adalah semboyan khas yang diciptakan oleh Presiden Sukarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.
Presiden Sukarno memberi judul pidato itu untuk mempertahankan garis politiknya, yaitu “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Karena bangsa yang melupakan sejarah akan mudah kehilangan kebanggaan dan arah, sehingga mudah terombang-ambing, seperti yang terjadi pada bangsa yang kehilangan bukti sejarahnya.
Dalam pidatonya itu Presiden Sukarno tidak kurang mengucapkan 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan sejarah bagi Bung Karno

Kemarin (13/1) , PimRed mengirimkan link dibawah ini dan bertanya “Apakah ini yang disebut melupakan sejarah?”, saya diam karena bingung harus menjawab apa. “Bagaimana mungkin sebuah kantor wilayah bisa tidak mempunyai data, dokumen dan foto para pejabatnya?”, tanya PimRed. Saya diam lagi.
https://bengkulu.kemenkum.go.id/profil/kepala-kantor-wilayah-dari-masa-ke-masa

Masih kata PimRed, diantara 6 Prinsip Etos Kerja ala Orang Jepang, salah satunya disebut ‘GIRI’, semua pekerja pemerintahan atau swasta memegang teguh Konsep Giri yang mengacu pada rasa tanggung jawab dan kewajiban pribadi terhadap orang lain atau organisasi. Dalam konteks kerja, ini menciptakan rasa tanggung jawab terhadap tugas dan proyek yang diemban. Giri memberikan motivasi tambahan untuk bekerja keras demi keberhasilan bersama.
Hal lain, Budaya kerja Jepang memberikan pentingnya besar pada sikap hormat terhadap atasan dan sesama karyawan. Etika dalam berkomunikasi, menyimak dengan penuh perhatian, dan menghormati hierarki organisasi adalah prinsip yang membentuk hubungan kerja yang harmonis.

Teman teman relawan dimana saja berada,
Jika saja saat ini jumlah pegawai Kanwil Kemenkumham Bengkulu sekitar 107 dari 850-an pegawai yang ada, apakah sulit menempatkan seseorang untuk melengkapi data, dokumen dan foto para pejabat/kakanwil yang kosong tersebut, bukankah ini hal terkecil sebagai Jas Merah?, tidak terbayang kecewanya anggota keluarga mereka karena dianggap tiada dan masa lalu.
‘Agh sudahlah..
(Foto.ist)
