Koranprabowo.id, Parekrafbud :
“RITUAL PARHALAAN & PANGURASON SIMALUNGUN”
Untuk melengkapi rubrik ‘Parekrafbud’ sebagaimana PimRed himbau maka berikut salah satu ritual yang dikenal dalam budaya Simalungun adalah ‘PARHALAAN SIMALUNGUN’. Satu acara/ sistem penanggalan tradisional yang digunakan masyarakat/suku Simalungun, Sumatera utara untuk menentukan hari baik waktu pelaksanaan upacara adat, aktivitas penting seperti pernikahan, membuka lahan, atau perjalanan.

Kegiatan ini biasanya melibatkan datu (tokoh adat/spiritual) dalam menggunakan perhitungan hari, simbol, dan tanda-tanda alam. Yang diyakini berkaitan dengan keseimbangan alam dan restu leluhur. Karena itu, Parhalaan sering dianggap memiliki unsur spiritual/mistis, meskipun juga bersifat kearifan lokal dan sistem pengetahuan tradisional. Tujuan ritual Menghindari “hari sial” ; Mendapat keberuntungan & keselamatan, Menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Ritual seperti ini: bukan sekadar mistis, tapi juga bagian dari budaya sistem sosial identitas masyarakat Simalungun

Yang ke-2 adalah ritual ‘PANGURASON SIMALUNGUN’ , adalah ritual pembersihan (penyucian) yang dilakukan untuk mengusir energi negatif, menolak bala (kesialan/penyakit) atau memulihkan keseimbangan hidup.

Proses ritual; Biasanya dipimpin oleh datu (tokoh spiritual/adat) dan melibatkan:, air yang sudah didoakan (air pangurason), ramuan daun-daunan tertentu, doa/mantra tradisional, kadang disertai musik tradisional seperti gondang. Dan Air tersebut kemudian: dipercikkan ke orang/rumah atau digunakan untuk mandi ritual. Unsur mistis yang dipercaya; Membersihkan gangguan dari roh jahat atau energi buruk,, Mengembalikan “keseimbangan” antara manusia dan alam, Meminta perlindungan leluhur.

Kapan dilakukan?, Saat seseorang sering sakit tanpa sebab jelas, Setelah mengalami kejadian buruk berturut-turut, Sebelum acara adat penting, Saat membuka tempat/usaha baru, dsb.
Walaupun terlihat mistis, Pangurason juga mengandung: nilai psikologis (memberi rasa tenang)
nilai sosial (menguatkan kebersamaan) nilai tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun
(Red-01/Foto.ist

Aku, PimRed, Ibu Rahma, A.Waruwu &B. Manurung.

