Koranprabowo.id, Unik :

Saya etnis Batak marga Sihombing , tanah Banten bagi saya sudah seperti kampung halaman di Sumatera utara sana. Dan kami menyukai karakter suku Baduy (Urang Kanékés). Yang kata PimRed mereka adalah leluhur PimRed karena dalam sejarah mereka sebagai keturunan Kerajaan Pajajaran (abad ke-11 -16) yang mengasingkan diri ke Gunung Kendeng setelah raja mereka Prabu Siliwangi ‘moksa/menghilang’ untuk menghindari perang saudara

Dalam beberapa sumber disebut salah satu kesaktian atau keistimewaan yang terkenal dari suku Baduy, khususnya Baduy Dalam, adalah mampu berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh puluhan dan ratusan kilometer.

Beberapa “kesaktian” lainnya adalah; Menguasai ilmu gaib seperti debus, di mana mereka dipercaya kebal terhadap senjata tajam maupun senjata api. Kebiasaan berjalan kaki sejak kecil membuat masyarakat Baduy Dalam memiliki kesehatan fisik yang sangat fit, terhindar dari penyakit jantung, kolesterol, dan alzheimer. Mereka tidak memakai sabun, deodoran, atau bahan kimia modern, namun tidak memiliki bau badan yang mengganggu, dipercaya karena penggunaan bahan alami. 

Kekuatan mereka dianggap sebagai hasil hidup disiplin, memegang teguh Nitian Tali Paranti (adat istiadat), dan menyatu dengan alam.

Suku Batak dan Suku Baduy memiliki persamaan mendasar, kedua suku sangat patuh pada aturan adat. Baduy (terutama Baduy Dalam) ketat melarang teknologi, sementara Batak (khususnya Batak Toba) ketat memegang aturan marga dan adat perkawinan. Baik Baduy maupun Batak memiliki filosofi hidup yang selaras dengan alam. Suku Baduy menjaga kelestarian hutan sebagai bentuk ibadah, hal yang serupa ditemukan pada kearifan lokal masyarakat Batak dalam mengelola tanah adat.

Jika Debus adalah salah satu bentuk kesaktian suku Baduy, di Sumatera utara pun ada. Melalui ‘Datu’ karena menguasai ilmu gaib, medis, dan astronomi kuno. Mereka melakukan ritual magis, seperti memanggil roh, yang tertuang dalam pustaha laklak (kitab dari kulit kayu). Leluhur kami dikenal memiliki keahlian magis untuk memperkuat diri dalam pertempuran dan menciptakan senjata sakti. Kepercayaan asli, seperti Parmalim, yang memuja Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa/Maha Kuasa), menjadi landasan spiritual masyarakat.

“Suku Baduy dan Batak merupakan bagian dari 1.340 suku di Indonesia yang tersebar di 17.000 pulau, 75.000 desa dan menjadikan Indonesia salah satu negara dengan keberagaman suku, bahasa, dan budaya terbesar di dunia. Kita bersatu karena Bhineka Tunggal Ika, keberagaman suku bangsa, agama, keyakinan, tradisi, adat istiadat, dan bahasa lokal yang berbeda-beda menjadikan kita sebagai bangsa dan negara yang kuat”, tutup PimRed melalui seluler. ‘Iya juga sih.

(Red-01/Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?