Koranprabowo.id, Unik :

Jauh sebelum Belanda melalui VOC menguasai Jayakarta/Batavia (Jakarta) yang terdiri atas hutan dan rawa-rawa, Belanda datang dan meminta Simon Stevin, seorang ahli matematika, fisika, dan insinyur militer Flemish untuk merancang sebuah kota pusat markas dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dengan mengikut rancangan kota Belanda abad ke-17. Kota dibuat dengan banyak kanal-kanal yang mengambil air dengan sodetan dari Ciliwung. Kala itu, Batavia dipuja-puji dalam banyak laporan sebagai kota paling indah.

Akan tetapi, keindahan itu mulai bermasalah sejak 1730. Saat musim hujan tiba, sering terjadi banjir dan musim kering menyebabkan krisis air. Para ahli kesehatan kala itu menyebut penyebab dari masalah tersebut adalah kanal-kanal. Dari sana muncul kabut beracun, hingga penyakit-penyakit aneh seram dan mematikan yang meneror. Mereka menyalahkan erupsi Gunung Salak pada 1699 yang menimbulkan pelumpuran di kanal-kanal.

Kemasyuran Batavia sebagai Ratu di Timur pun rontok dan menyisakan bangunan bak kuburan di Timur. Para elite kaya mulai pindah ke selatan untuk menghindari banjir, mencari air bersih, dan udara sehat. Puncaknya pada 1800, Batavia ditinggalkan diiringi dengan kutukan sebagai Oud Batavia. Kata yang merangkum segala hal buruk di kota itu. Jakarta pun kembali seperti awal, hutan dan rawa-rawa.

Banyak sumber mengatakan kota yang banyak dilalui sungai ini seolah kota mati mereka banyak yang pindah ke Depok, Tangerang, Bogor, Bekasi dsb. Tersisalah kemudian para garong disana. Juga berbagai macam hewan buas kala itu bukan hanya ular dan buaya semata namun ada juga harimau dan badak disepanjang Sungai Ciliwung, Krukut dan Angke. Mereka bahkan juga berkeliaran dan bersarang di dalam parit-parit, baik di dalam maupun di luar tembok kota.

(Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?