Koranprabowo.id, Unik :
Kali ini saya tidak lagi bicara tentang Musholla Al Hijrah , Jatirejo, Sampali, Kab. Deli serdang yang terus berjuang untuk melengkapi fasilitasnya hingga saat ini baik PJU – Penerangan Jalan Umum, dsb. Namun, kali ini kita mengupas balik tentang “Hijrah-nya Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatsrib (Madinah)”, pada 16 Juli 622 M , sebagai peristiwa perpindahan Rasulullah dan pengikutnya untuk menghindari penindasan kaum Quraisy dan membangun peradaban Islam baru. Perjalanan ini ditempuh selama kurang lebih 16 hari, dengan berjalan kaki dan menunggang unta menempuh dahsyatnya badai gurun sepanjang 423 kilometer


Oh ya, Kota Madinah kala itu masih bernama Yatsrib, yang berarti “tanah gersang berdebu.” Tetapi tanggal 22 September 622 M, sesaat setelah Nabi SAW melakukan pematokan empat sudut kota Yatsrib, beliau kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Nama Madinah yang berarti “peradaban”dipilih, menurut para ahli, karena nama ini dianggap paling tepat mewakili spirit perjuangan Nabi SAW di muka bumi, yakni membangun peradaban baru yang lebih manusiawi, menggantikan peradaban lama yang lebih jahili.
Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa saat Rasulullah hijrah hanya ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu, ada Ali bin Abi Thalib yang menyamar sebagai Rasulullah untuk mengelabui kaum Quraisy sebelum akhirnya menyusul. Lalu ada Abdullah bin Uraiqith, penunjuk jalan bayaran . Sementara yang lainnya melakukan hijrah secara sembunyi-sembunyi dalam kelompok-kelompok kecil (kloter) sebelum dan sesudah Hijrah. Gerakan mereka demikian senyap.

Peristiwa hijrah, oleh berbagai ahli, dipahami melalui dua dimensi, yakni hijrah fisik dan hijrah mental. Hijrah fisik adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mencari kehidupan baru yang lebih baik, seperti perpindahan Rasulullah SAW bersama sahabatnya dari Mekkah ke Madinah tersebut. Adapun hijrah mental adalah perpindahan dari satu situasi mental spiritual yang kurang produktif dan bermartabat menuju suatu situasi kehidupan yang lebih produktif dan bermartabat.
Saat PimRed menginap dikediaman saya, banyak hal saya garis bawahi khususnya yang berkaitan peran relawan, yaitu; Berani meninggalkan sifat amarah, mengubah pesimisme menjadi optimisme,


selalu bersyukur dan bersabar, mencari lingkungan pertemanan dan komunitas yang baik, aktif berkarya, dan bermanfaat bagi sesama. “Ini juga Hijrah”,kata PimRed.
(Red-01/BudiDG/Foto.ist)

