Koranprabowo.id, HotNews :

Rupanya bukan hanya relawan saja yang bangkit berdiri menentang Pernyataan Wapres ke-10 & 12, Jusup Kalla terkait potensi terjadinya ‘chaos’ pada Juli–Agustus 2026 mendatang, dan saya baru tahu dari kabar seorang relawan senior initial ‘DW’ yang pernah aktif sebagai relawan Jokowi-Ahok sejak thn.2012 lalu dan kini tinggal di NewZealand melalui seluler (17/4) ,“Golkar juga ikut mengecam, bang”, kata DW , “Masa?, bukannya JK itu Golkar?”, … “Nggak tau bang kalau itu”, … “Oke, sekarang jam berapa disana bro?”, … “Disini hampir pukul 02.00 pagi bang, jam berapa di Bandung?”, balik tanya DW. “Hampir pukul 9 malam, bro”, jawab saya , kata DW, perbedaan Waktu Indonesia dengan New Zealand , lebih cepat 3-5 jam dari waktu di Indonesia.

1.Sejak Maret 2026 lalu, ujug – ujug banyak tokoh dan aktifis yang ‘silahturahmi’ kerumah JK di Jakarta diantaranya ; Mantan Gub.Jakarta – Anies Baswedan, Pakar Hukum Tata Negara Universitas Andalas – Feri Amsari, Rektor Universitas Harkat Negeri – Sudirman Said, Ketua BEM UGM – Tiyo Ardianto,

2.Pertanyaan yang sama adalah bagaimana JK bisa meramalkan bahkan seolah olah akan ada chaos, kemudian relawan mengaitkan dengan statemen JK sebelumnya yang mengusulkan kenaikan harga BBM untuk mengurangi defisit APBN dan utang negara yang bengkak akibat subsidi energi. Namun, usulan ini ditolak pemerintah, bahkan Wapres Gibran menegaskan usulan JK ‘tidak sejalan’ dengan pemerintah.

Wajar jika relawan khususnya relawan Jokowi mempunyai anggapan   jika usulan kenaikan harga BBM diwujudkan, hal ini berisiko memicu kemarahan rakyat dan potensi kekacauan (chaos), menyalahkan pemerintah dan gerakan dapat menjadi rencana makar atau impeachmen /melengserkan presiden.

4.Kini Golkar pun ikut mengecam, JK yang pernah menjadi Ketum DPP Partai Golkar periode 2004–2009 tersebut disebut Waketum Golkar bidang kebijakan publik saat ini , Idrus Marham, menilai pernyataan yang menyebut secara spesifik ada potensi chaos tidak bisa lagi hanya dikategorikan sebagai analisis biasa dalam politik praktis dan dunia intelijen. Namun itu seperti sudah ada skenario dan target operasi.

Idrus bahkan mengingatkan dalam situasi nasional yang membutuhkan stabilitas, setiap tokoh publik seharusnya menyampaikan pandangan yang menyejukkan, bukan memicu keresahan, bukan menimbulkan kepanikan. Semua harus berkontribusi dalam menciptakan situasi kondusif yang menenangkan rakyat. Jangan memanas-manasi. Jangan menciptakan kondisi yang membuat rakyat semakin panik dan marah.

Kepada media bahkan Idrus menyinggung dan mencurigai kemungkinan adanya motif lain di balik pernyataan tersebut. Menurut dia, tidak tertutup kemungkinan narasi ‘chaos’ digunakan sebagai instrumen tekanan karena adanya kepentingan yang terganggu atau tidak tercapai, lalu dijadikan instrumen penekan.

Diskusi terhenti karena hujan diluar demikian deras disertai petir.

(Red-01/Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?