Koranprabowo.id, HotNews: :

Teman teman relawan dimana saja berada,

Akhir-akhir ini ada hal menarik yang tengah dibicarakan teman-teman di Koranjokowi.com dan Koranprabowo.id, yaitu ber-gesernya ‘kebencian’ kepada Wapres Gibran Rakabuming raka menjadi sebaliknya, mau bukti?

Mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra – Arief Poyuono yang selama ini anti ‘Jokowi dan Gibran’ entah ada angin apa, tiba-tiba kepada media April 2025 lalu telah mengatakan bahwa Gibran mempunyai peluang menjadi presiden pada 2029 sangat besar bahkan lebih dari 90%, “98 persen potensi Gibran akan menjadi presiden kesembilan Indonesia, cuma waktu saja nanti yang menentukan semua ini. Dan ingat, dalam sejarah Indonesia, belum ada wapres dipaksa turun atau di-impeach” Arief juga mengatakan sudah empat presiden RI dipaksa turun dan di-impeach dan ada dua wapres yang menggantikan Presiden RI.

Ia menilai skenario itu bisa menjadi strategi perlindungan politik bagi Jokowi setelah tak lagi menjabat presiden. Dengan posisi Gibran sebagai kepala negara, Jokowi dinilai tetap memiliki benteng politik yang kuat untuk menghindari potensi masalah hukum maupun tekanan politik pasca-kekuasaan.

Meski tidak ada hambatan hukum, Rocky mengakui bahwa wacana ini menimbulkan masalah etika dan dinilai sarat nepotisme dan mencederai prinsip meritokrasi. Namun Rocky menegaskan politik Indonesia penuh kejutan sehingga kemungkinan itu tetap terbuka. Ia bahkan menantang publik untuk mengingat prediksinya. “Tagih saya nanti di 2029,” ujarnya, ahahaha.

Salah satu tersangka kasus Ijasah Jokowi, Rismon Sianipar melontarkan prediksi kontroversial terkait arah politik nasional menjelang Pilpres 2029. Ia menyebut peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden RI mencapai 90 persen.

Menurut Rismon, faktor utama yang menentukan adalah kekuatan finansial dan pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia menilai konfigurasi kekuasaan saat ini sangat menguntungkan Gibran secara logika politik.

Rismon menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan hasil pembacaan terhadap dinamika politik nasional. Ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa bahwa masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda menjelang 2029.

Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul – Jamiluddin Ritonga, Gibran tetap berpeluang diusung pada Pilpres 2029, meski hingga kini belum bergabung dengan partai politik mana pun. Dan Gibran perlu menjaga dua hal penting agar tetap masuk bursa Pilpres 2029: popularitas dan elektabilitas.

“Pada dasarnya, partai politik akan memilih kandidat yang bisa membawa mereka menuju kemenangan,” ujarnya. Popularitas dan elektabilitas yang tinggi adalah kunci untuk menarik perhatian partai politik Selama dua hal itu dipenuhi, selama itu pula lah akan diusung partai politik tertentu,” kata Jamiluddin.

(Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?