Koranprabowo.id, Desa :
Tanggal 18 November 2025 lalu Provinsi Bengkulu genap berumur 57 tahun dengan tema ” Semangat Merah Putih, Bersama Bantu Rakyat”, sebagai bentuk komitmen seluruh masyarakat Bengkulu untuk menggapai tujuan bersama, yakni kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Diusia yang tak lagi muda, berbagai capaian keberhasilan direngkuh. Namun, tak sedikit juga pekerjaan rumah yang masih membutuhkan sentuhan dan perhatian pemerintah, salah satunya Sektor Pertanian Bengkulu.
Sektor pertanian sangat penting untuk menopang ekonomi Bengkulu, dan menjadi penyumbang terbesar bagi PDRB Bengkulu. Data pertumbuhnan ekonomi triwulan III-2025, menunjukkan perekonomian Provinsi Bengkulu masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 30,85 persen.
Hanya saja, bicara sektor pertanian yang menjadi andalan Provinsi Bengkulu, ada hal penting yang harus menjadi perhatian bersama saat ini, yakni Luas Panen dan Produksi Padi Bengkulu yang mengalami penurunan.

Luas panen padi pada 2025 diperkirakan sekitar 52,05 ribu hektare, mengalami penurunan sebesar 3,72 ribu hektare atau 6,67 persen dibandingkan luas panen padi di 2024 yang sebesar 55,78 ribu hektare.
Sementara itu, Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) pada 2025 diperkirakan sebanyak 265,33 ribu ton GKG, dan mengalami penurunan sebanyak 7,52 ribu ton GKG atau 2,76 persen dibandingkan produksi padi GKG di 2024 yang sebanyak 272,85 ribu ton GKG.
Dari berbagai sumber lain yang kami himpun, data produksi padi di Provinsi Bengkulu dari tahun 2004 hingga 2024 lalu menunjukkan variasi yang signifikan, naik turun pencapaian produksi padi termasuk penurunan luas lahan pertanian akibat urbanisasi dan konversi lahan menjadi perkebunan atau perumahan.

Jika di tahun 2004 produksi padi mampu mencapai 377.798 ton, seiring kurangnya lahan maka yang terjadi diantara thn.2020-2023 hanya tercapai antara 290.000 – 325.082 ton. Bahkan banyak para ahli mengatakan produksi padi tahun 2024 – 2028, akan mengalami ‘kekurangan’ karena hanya mampu mencapai 303.658 – 307.422 ton, atau sekitar 150.000 – 157.000 ton beras. Idealnya kita mampu memproduksi beras diatas 200.000 ton, lalu relawan bisa apa?
(Foto.ist)
