Koranprabowo.id, Profil :
Dijagat maya maupun realita, sedang hebohnya tampilnya ‘Si Pencabut Nyawa’, dialah Abu Azrail (Ayyub Falih Hasan al-Rubaie) , seorang monster bagi lawannya karena dia adalah pejuang milisi dari Irak yang dikenal luas karena perannya dalam melawan kelompok ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) sejak thn.2013 hingga thn.2017 ISIS meninggalkan Irak dsb. Dia adalah relawan bukan tentaranya Irak dan bukan juga tentara bayaran sebagaimana dihembuskan AS dan sekutunya. Abu kelahiran tgl. 26 April 1978 di Kota Sadr, Irak dari keluarga sederhana.Istrinya perawat dan ber-anak 5 orang.

Abu Azrail Motto dan kelompoknya mempunyai slogan ” Ella Tahin“, – Berjuang sampai/menjadi debu ini disebut Rusia sebagai “Malaikat Maut ISIS”, Rusia memang salah satu negara anti-ISIS hingga kemudian ISIS melakukan teror dan pembunuhan kepada 140 orang saat acara konser di Moscow thn.2024 lalu kalau pun ISIS telah kalah sejak thn.2017 lalu. Ini juga menandakan benih ISIS masih ada, termasuk di Indonesia dimana ada kelompok orang yang kerap membawa bendera/simbol – simbol ISISI, Ehehehe.

Monster Abu dikenal reputasinya yang keras di medan tempur, pimpinan tertinggi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), atau ISIL/Daesh – Abu Bakar al-Baghdadi., adalah kelompok militan jihadis Sunni radikal yang bertujuan mendirikan kekhalifahan Islam di Timur Tengah. Terkenal karena kekejamannya, kelompok ini berakar dari al-Qaeda di Irak, berkembang saat perang saudara Suriah, dan ditetapkan sebagai organisasi teroris internasional oleh PBB sejak thn.2013.
Abu memang bukan tentara, dia adalah relawan yang berprofesi sebagai dosen universitas juga seorang atlet taekwondo. Ia kemudian bergabung dengan kelompok milisi Kataib al-Imam Ali yang tergabung dalam Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) untuk melawan ISIS di Irak sekitar tahun 2014–2017
. Abu Dikenal sering tampil membawa senjata berat dan simbol-simbol perlawanan termasuk membawa ‘kampak besar’ di medan perang. Kehadirannya menjadikan idola dan banyak pengikutnya yang disebut lebih dari 10.000 orang, selain di medan perang Abu mempunyai tim sosmed. Maka ia pun cepat diangkat sebagai komandan milisi Syiah Irak dari kelompok Kataib al-Imam Ali (Pasukan Mobilisasi Populer) , tanpa upah dan tanpa bayaran.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW memandang perang sebagai pilihan terakhir (last resort) yang hanya diambil ketika jalan damai, diplomasi, dan pertahanan diri tidak lagi memungkinkan. Peperangan dalam Islam, terutama pada masa Nabi, bertujuan untuk mempertahankan diri, menegakkan keadilan, dan menghilangkan ancaman fisik dari pihak musuh (kaum musyrik atau mereka yang ingin memusnahkan komunitas Muslim. Ini yang mendasari Abu berperang dengan ISIS.
Kemarin (4/4) Abu dan pasukan intinya telah tiba di Teheran, Iran, untuk berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di tengah ketegangan wilayah. “Kami berharap ada perdamaian atau menjadi debu”, katanya kepada Media. ‘Ngeriiii …
(Red-01/Foto.ist)

