Koranprabowo.id, HotNews :
Kemarin (21/12) saat di Palembang, Sumatera selatan karena ada acara keluarga nikahan. Saya sempat berdiskusi dengan PimRed tentang sosok anak muda kreatif/youtuber bernama Ferry Irwandi. mantan ASN/PNS Kementerian Keuangan selama 10 tahun yang turun langsung ke tempat bencana banjir dan longsor Sumatera utara, Barat dan Aceh lalu yang juga berhasil mengumpulkan donasi dari ‘teman temannya’ sebesar Rp 10 Miliar hanya dalam sehari—sebuah prestasi yang ironisnya justru membuatnya disindir oleh anggota DPR yang merasa “tersaingi”. Dan ini terus menjadi perbincangan di warung warung kopi tempat relawan nongkrong. Keren.

Tidak cukup sampai situ, dia pun membuat publik geleng-geleng kepala karena ia menyewa pesawat untuk mengangkut panen cabai petani Aceh yang terancam busuk karena bencana, lalu menjualnya di Jakarta. Sebuah solusi ekonomi jenius di tengah krisis yang mungkin luput dari pemikiran pejabat berdasi. Di usianya yang ke-34 pada 16 Desember ini, Ferry bukan lagi sekadar influencer; ia adalah simbol efisiensi sipil yang menampar wajah birokrasi kita.
Kata PimRed, kisah Ferry Irwandi ini bukan sekadar cerita sukses seorang mantan PNS yang jadi kaya raya lewat YouTube. Tapi satire paling brutal terhadap tata kelola negara kita hari ini. Bayangkan sebuah kapal induk raksasa yang lamban dan berkarat, tiba-tiba disalip oleh speedboat kecil yang lincah dan tepat sasaran. Kapal induk itu adalah birokrasi kita, dan speedboat itu adalah inisiatif sipil macam Ferry dan teman-temannya. “Jadi mengapa pemerintah harus gusar”

Donasi Rp 10 Miliar yang dihimpun Ferry dan sindiran anggota DPRRI bernama Endipat Wijaya saat Rapat Kerja Komisi I DPR RI bersama Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) yang menyindir seorang warga (Ferry) yang disebut “sok paling kerja” hanya karena berhasil menggalang dana Rp 10 Miliar. Cilakanya lagi, Endipat ini dari Gerindera /Dapil Kepulauan Riau .

Wajar jika publik menyebut jika Ferry telah menelanjangi ketidakbecusan sistem yang memegang anggaran ribuan triliun. Ferry tidak hanya memberi makan korban bencana; ia sedang mempermalukan lambannya mesin negara. Sindiran “sok kerja” itu adalah mekanisme pertahanan diri dari mereka yang sadar bahwa legitimasi moral mereka sedang tergerus.
’Ahahahaha..
(Arie,K/Joko/Herman – Foto.ist)
