Koranprabowo.id, Profile :

 Kemarin (Senin, 22/12) dikepadatan aktifitas beliau, Alhamdulillahirabil’alamiin saya dan rombongan Kiai NU Jawa mendapatkan waktu bertemu  KH. Rhoma Irama, kalau pun usianya telah menuju 79 tahun terlihat masih fresh. Banyak hal kami diskusikan juga wejangan yang beliau sampaikan kepada kami. Demikian Gus Faris (K.H. M. Faris Al Haq Fuad Hasyim) – Pengasuh PP Nadwatul Ummah, Buntet, Kab. Cirebon mengawali percakapan melalui seluler usai silahturahmi dengan ‘Sang Satria Bergitar dikediamannya, Depok, Jawa barat.

Dari seluler itu pula dapat kami simpulkan beberapa catatan besar , yaitu;

1.Seperti kita ketahui hingga saat ini beliau mempunyai penggemar lebih dari puluhan juta orang yang juga adalah Nahdliyin, maka kita berharap , beliau sebagai orang tua mampu menjembatani atas hal ini. Khususnya atas kisruhnya kasus PBNU , “Beliau sosok yang Tawadhu , bersikap netral sehingga menyarankan ishlah atau rekonsiliasi diantara dua kubu yang berselisih”, masih kata beliau Ishlah itu sebagai suatu tindakan yang penuh dengan hikmah dan kembali damai.

2.Dalam menangani hal ini beliau juga berpesan kepada kami agar hati-hati sehingga tidak melebar kemana-mana, beliau juga menolak halus untuk terlibat lebih dalam, “Maaf, bukan maqom saya untuk hal ini , saya seniman. Perlu kehati-hatian menyikapinya”, seperti itulah beliau mengatakan.

3.Apapun beliau berjanji kepada kami, “Kalau memang saya dimintakan tenaga dan pikiran. Insyaallah saya akan all out untuk Nahdlatul Ulama. Saya akan all out untuk agama”. Semua yang disampaikan beliau sangat berbekas dalam diri kami.

Seperti itulah kesimpulan silahturahmi dengan ‘Sang Satria Bergitar’, beberapa kali sinyal seluler terputus-putus karena saat itu Gus Faris dan rombongan tengah diperjalanan pulang menuju Buntet Pesantren. Kab. Cirebon. Saya mencoba menggodanya, “Maaf Kiai, jikalau jalan Ishlah menjadi ‘buntu, apa yang akan dilakukan?”, tanya saya.

“Kami , dalam arti Forum Kiai NU Jawa akan mengupayakan cara lain salah satunya adalah melalui ‘poros terakhir , detilnya nanti akan disampaikan”, jawab Gus Faris – cicit alm.Kiai Abbas Buntet ‘Sang Singa Dari Barat.

“Ijin Kiai, saat deklarasi para Kiai NU Jawa tgl. 12 Desember 2025 di Bandung lalu pada poin ke-4 disebutkan akan ‘membentuk PBNU Tandingan apabila MLB tidak digelar dalam tiga bulan, berarti maksimal bulan Februari – Maret 2026 yad?”, tanya saya lagi.

“Ya seperti itu, kami, Forum Kiai NU Jawa akan mengambil langkah darurat berupa pembentukan PBNU Tandingan sebagai wadah konsolidasi NU Kultural. Langkah ini ditempuh sebagai ikhtiar terakhir untuk menyelamatkan NU dari stagnasi, konflik internal, dan penyimpangan orientasi perjuangan.Jelas itu amanah forum”, jawab Gus Faris.

“Tetap di-gas, kiai?”

“Iya, Insyaallah, Gaskeun..”

Ditambahkan Gus Faris, melihat situasi saat ini dimana kubu KH Miftakhul Akhyar, KH Yahya Cholil Staquf, dan Saifullah Yusuf tetap ngotot ingin eksis sepertinya agak sulit untuk ishlah. Yang disebut dengan Langkah darurat itu, kami akan segera berkordinasi kembali dengan pengurus NU provinsi atau PWNU- Pengurus wilayah, PCNU Kabupaten / Kota hingga Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) tingkat Kecamatan.

“Ini kemungkinan terburuknya seperti itu, ya mau apa lagi”, kemudian Gus Faris pamit menutup seluler.

Entah ada kaitannya atau tidak saya ingat selain Perjanjian Hudaibiyah,tahun ke-6 Hijriah (628 Masehi). Nabi Muhammad SAW juga melakukan “ishlah” dalam bentuk lain, seperti Piagam Madinah, yang merupakan konstitusi tertulis untuk mengatur kehidupan bersama antara kaum Muslimin, Yahudi, dan kelompok lain di Madinah untuk menciptakan keamanan dan kerukunan. Meskipun banyak sahabat, termasuk Umar bin Khattab, merasa keberatan namun Nabi Muhammad SAW tetap melakukannya demi menjunjung tinggi perdamaian dan diplomasi. 

(Red-01/Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?