Koranprabowo.id, Parekrafbud :
Ahahaha, saya orang Solo yang kemudian lama di Kab. Rejang Lebong , Prov. Bengkulu. Semalam (24/4) saya diminta PimRed untuk mencari tahu tentang Kasepuhan Cipta Gelar, Kec. Cisolok, Kab. Sukabumi. Pastinya saya harus cari diberbagai sumber valid. Berikut catatan saya:
Kasepuhan Ciptagelar adalah kampung adat Sunda yang terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Komunitas ini teguh memegang tradisi selama lebih dari 640 tahun, terkenal dengan swasembada pangan padi yang mampu disimpan hingga 95 tahun. Dipimpin oleh Abah Ugi, mudah-mudahan tidak salah nama, kehidupan adatnya diatur oleh siklus pertanian padi.

Kasepuhan Ciptagelar, yang terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, memiliki total wilayah adat sekitar 70 hektar. Kampung adat ini berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 1.050 meter di atas permukaan laut (mdpl) di kaki Gunung Halimun Salak.
Jarak dari rumah saya kesana sekitar 995 Km melalui darat atau hampir 19 jam lamanya tapi saya siap 24 jam jika memang lokasi rencana pembuatan Film Dokumenter yang diselenggarakan Kemenbud RI ‘cair, ahaha, Aaamiin Yra.

Kasepuhan Ciptagelar diyakini telah ada sejak tahun 1368. Masyarakat adat ini berasal dari keturunan para prajurit Kerajaan Sunda yang memilih hidup menyatu dengan alam setelah masa kejayaan kerajaan berakhir. Secara administratif berada di Sukabumi, namun secara kultural dan adat, mereka merasa bagian dari wilayah Banten Kidul.
Kasepuhan ini telah berpindah pusat pemerintahan sebanyak 19 kali sejak berdirinya, sebagai bagian dari tradisi adat, sebelum akhirnya menetap di lokasinya yang sekarang. Komunitas ini dipimpin oleh seorang “Abah” yang merupakan pemangku struktur kelembagaan adat berdasarkan garis keturunan. Saat ini, kepemimpinan dipegang oleh Abah Ugi.
Kehidupan Ciptagelar bersandar pada budidaya padi. Salah satu aturan adat yang unik adalah bertani hanya satu kali dalam setahun, yang dipercaya untuk menjaga kesuburan tanah. Mereka memiliki sistem penyimpanan padi yang disebut leuit yang mampu menyimpan cadangan makanan dalam waktu lama.

Masyarakat Ciptagelar menganut aturan adat yang diwariskan turun-temurun, dengan semboyan kepercayaan “Islam Pangandika Gusti Rasul”. Kasepuhan Ciptagelar menjadi salah satu contoh masyarakat adat di Jawa Barat yang masih sangat teguh menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman
Saat ini jumlah / Total Komunitas (Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam) Lebih dari 30.000 – 32.000 warga, tersebar di sekitar 568-586 kampung kecil di kawasan Gunung Halimun-Salak. Namun ada juga sumber yang menyebutkan populasi “Orang Gelaralam” sebanyak 16.133 jiwa, dengan 15.795 di sekitar pusat kasepuhan dan 338 di Kampung Gede.

Kampung Gede, Desa Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kab. Sukabumi merupakan pusat aktivitas adat. Masyarakat Ciptagelar melarang penggunaan pupuk kimia dan traktor, serta tidak menjual padi atau beras. Padi dianggap suci (bersemayamnya Dewi Sri) dan disimpan di leuit (lumbung).
Budaya & Kepercayaan: Kehidupan berpusat pada kasepuhan (sesepuh) yang diwariskan turun-temurun. Mereka memegang adat dari Kerajaan Sunda zaman Prabu Siliwangi.

‘Sampai Jumpa , kawan !
(Red-01/Foto.ist)
