Koranprabowo.id, unik :

Kami mendapat ceritera ini dari media sosial, sungguh menyayat hati. Jika ini benar semoga Lae Doris terus diberikan kekuatan dan kesehatan Tuhan YME, kalau pun ini hoaks semoga kita tetap mendapatkan banyak hal positip. Ini bukan ceritera tentang keyakinan/agama namun ini tentang ceritera kelam bahwa dibalik bencana ada ‘Teguran’ Tuhan didalamnya mungkin karena ‘keserakahan’ para pemberi ijin gundulnya hutan dan kemasa-bodohan mereka kepada rakyat sekitar.

Judul asli, Pesan Cinta Terakhir: “Pergilah Shalat Ke Masjid” Kalimat Sang Isteri yang Menyelamatkan Nyawa Doris. Saya Doris, 33 tahun. Desa Aek Manis, Sibolga Selatan—tempat tawa dan janji-janji kami tumbuh, kini menjadi saksi bisu kehilangan paling kelam.

Malam itu, Jumat 25 November 2025. Istriku tercinta, Irma Yani Marbun, yang sedang mengandung lima bulan, tersenyum kecil saat aku menghampirinya.

“Pergilah sholat, Yang,” katanya lembut.

Kalimat sederhana itu…
kini menjadi jangkar bagi jiwaku yang hancur. Aku memandang matanya yang berkilat penuh kasih, seolah ia sedang menyampaikan titah perpisahan yang tak terucap. Aku melangkah menuju masjid. Shalat Maghrib baru usai ketika getaran dahsyat itu menghantam.

Keluar dari masjid, kakiku langsung lemas. Dari arah bukit, gunungan tanah raksasa meluncur turun, menelan rumahku bulat-bulat, menguburnya di bawah tumpukan lumpur. Di bawah timbunan itu, ada enam jiwa yang kucintai: Irma, anak sulungku, dan tiga adikku. Semuanya hilang dalam sekejap.

Aku berdiri terpaku. Dunia berhenti berputar. Hanya ada satu pikiran: Aku harus menemukan mereka. Pagi harinya, aku berada di atas puing itu, mencari. Mencari cangkul untuk menggali, namun berkali-kali aku memilih menggali dengan tangan tel4nj@ng.

Jari-jariku terluka, berd4rah. T4pi rasa sakit itu tak berarti apa-apa dibandingkan keinginan untuk memeluk mereka lagi. Saat j4s4d-jas@d itu satu per satu ditemukan, dunia runtuh untuk kedua kalinya. Melihat enam kantong jen@zah berderet di depan mata, rasanya jantungku dicengkeram dan diremas hingga tak bersisa.

Aku kira rasa sakitku sudah mencapai batas. Namun, takdir menguji lagi.

Di tengah duka yang tak terperikan, aku justru harus berhadapan dengan tagihan administrasi untuk biaya pemulasaraan jen@zah. Aku, yang tak lagi memiliki rumah, keluarga, atau harta, kini harus menghadapi kenyataan pahit ini.

Namun, dalam kehampaan itu, aku memilih untuk tidak menyerah pada amarah. Aku memilih untuk fokus pada kebesaran hati yang diwariskan oleh orang-orang yang kucintai. Aku harus tetap berdiri tegak, demi kehormatan mereka.

Di tengah kegelapan ini, satu hal yang membuatku bertahan: Kalimat lembut Irma.
“Pergilah sholat, Yang…”
Seandainya aku menunda sholat itu satu menit saja, mungkin aku sudah menyusul mereka. Aku percaya, aku selamat bukan karena kebetulan. Itu adalah titah terakhir Irma, doa penyelamat yang ia kirimkan sebelum kami dipisahkan oleh takdir. Kini aku sendiri. Namun setiap hari aku berusaha bangkit, meski tubuh rapuh, meski dada sesak. Karena aku tahu, Irma ingin aku tetap hidup. Anakku dan adik-adikku ingin aku terus berjalan.

Aku membawa mereka dalam setiap langkahku, dalam setiap napas, dan dalam setiap doa. Mereka telah beristirahat di tempat terbaik, dan tugasku kini adalah menjadi saksi abadi dari cinta mereka. Semoga luka ini suatu hari nanti sembuh, dan yang tersisa hanyalah kekuatan yang mereka berikan. Cepatlah pulih, Indonesiaku.

💚Kisah Nyata dari Sibolga, ditulis sebagai pengingat:
“Di balik setiap musibah, ada hati yang tegar, ada cinta yang takkan pernah terkubur. Kalian adalah orang-orang terpilih.”

(Vien JS/R.Jabat – Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?