Koranprabowo.id, Parekraf :
Tari Bulu gila/Bambu gila, merupakan permainan tradisional Maluku yang telah ada sejak zaman penjajahan Portugis. Tarian ini memang kental dengan nuansa mistis, di mana roh halus dipercaya mampu menggerakkan sebatang bambu panjang yang dibawa oleh tujuh orang dewasa. Namun, seiring perkembangan zaman, tari ini mengalami banyak modifikasi dan tidak lagi menggunakan roh halus sebagai inti tarian. Pada tarian modifikasi, batang bambu yang digunakan umumnya lebih pendek, dan penarinya pun sebagian besar adalah perempuan.
Tarian ini kental dengan nuansa mistis, di mana roh halus dipercaya mampu menggerakkan sebatang bambu panjang yang dibawa oleh tujuh orang dewasa

Tari bambu gila, meskipun mengandung risiko tinggi, tetap menjadi tarian yang memukau. Dalam setiap penampilannya, seorang dukun pembaca mantra diperlukan untuk mengundang dan mengendalikan roh halus yang membantu para penari. Sang dukun biasanya membawa tempat berisi bakaran kemenyan sebagai media penghubung. Bahkan, tidak jarang beberapa penari bambu gila mengalami kesurupan dan kehilangan kesadaran. Dalam situasi ini, peran sang dukun kembali diperlukan untuk mengendalikan mereka.
Pada tari bambu gila yang telah dimodifikasi, unsur mistis yang dulunya hadir tidak lagi ditemukan. Meskipun kehadiran roh halus dulunya menjadi daya tarik tarian ini, makna utama tari bambu gila bukanlah hal-hal gaib tersebut. Sebaliknya, gerak para penari yang menahan gerakan magis bambu merupakan simbol nilai kebersamaan yang harus tetap terjaga. Gerakan kaki yang serempak dan penuh kekuatan menunjukkan semangat gotong royong, atau masohi dalam budaya Maluku. Makna inilah yang seharusnya lebih ditonjolkan dalam tari bambu gila, dan nilai-nilai inilah yang masih terbawa dalam tarian hasil modifikasinya.
(Rigel,B/Foto.ist)
