Koranprabowo.id, KepalaDaerah :
Jembatan Air Sugihan (JAS) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) membentang diatas sungai dengan panjang sekitar 260 meter , lebar 6 meter yang konon anggarannya lebih dari Rp.100 miliar. Dimana tujuan awalnya adalah memperlancar distribusi barang dan jasa 2 Kabupaten (OKI-Banyuasin) apalagi keberadaan jembatan ini diharapkan masyarakat lebih dari 40 tahun lalu . Karena selama ini masyarakat ‘hanya’ menggunakan angkutan jalur air (sampan/klotok).

Dari warga sekitar disampaikan bahwa syukuran telah dilakukan sekitar Juli 2024 lalu oleh (saat itu) Calon Gubernur (Cagub) Provi.Sumsel – H Herman Deru. “Jembatan ini telah dipersiapkan pembangunannya sejak thn.2019 guna menyambungkan Desa Pangkalan Damai Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI dan Desa Indrapura Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin”, demikian IP warga sekitar kepada Koranprabowo.id (6/5) lalu.

Maih kata IP, jalan utama dari kecamatan Air sugihan masih parah, juga yang arah Muara sugihan pun masih menggunakan jalan masyarakat. Kita berharap dengan ditayangkannya hal ini waktu lalu ada atensi dari pihak terkait. Namun rupanya semua sepertinya ‘masa bodoh’, dan …
Hari ini (8/7) warga kembali menyampaikan keluhannya, bahkan memberikan masukan kepada redaksi mohon disampaikan kepemerintah pusat, daerah dan instansi terkait ‘agar lebih serius’ menyelesaikan semua ini. Sebut saja sejak Desa Sukamulya sebagai jalan utama hingga jembatan jaraknya sekitar 28 Km , jika mau di cor beton bertulang tinggi 30-50 Cm dengan biaya Rp. 2,8 miliar/Km maka hanya membutuhkan biaya Rp.78,4 miliar.
Juga sejak jembatan ujung menuju Desa Indrapura, kab. Banyuasin anggap saja membutuhkan biaya yang sama, Rp.78,4 miliar, maka kebutuhan untuk 50 Km berjumlah sekitar Rp. 156 miliar. Kalau pun harus membebaskan tanah warga sekitar, di OLX harga pasaran tanah disana sekitar Rp.250.000 – 1,5 juta/meter. Pastinya warga akan memberikan harga termurah jika untuk kemaslahatan ummat.
Hitungan sederhana ala Koranprabowo.id,
Biaya jalan untuk 50 Km @Rp.2,8 miliar/Km = Rp. 156.000.000.000,-
Pembebasan tanah, 28 Km (28.000 M) x @Rp.750.000/M = Rp.21.000.000.000,-
TOTAL = Rp. 177.000.000.000,-
(Seratus tujuh puluh tujuh miliar rp)
https://www.instagram.com/reel/DL3Dz-fTNgO/?igsh=MTBvbmI2a3c4cnQ1bg==
‘Nilai diatas, pastinya tidak sebanding dengan biaya jembatan yang melebihi Rp.100 miliar karena sampai saat ini tidak dapat optimal dipergunakan warga untuk kelancaran distribusi barang dan jasa. Juga terlihat kumuh, tidak terpelihara.
Atau mengapa saat dibangun lalu, tidak lebih dahulu mengutamakan pembangunan jalan utama?, kok malah jembatan lebih prioritas?,
Teman teman relawan dimana saja berada. Di tahun 2019 lalu pun Pemerintah Kota Palu , Prov. Sulawesi tengah membangun ‘Jembatan Lalove Palu V’ , penghubung Palu Barat dengan Palu Selatan dengan melintasi Sungai palu.
Panjang jembatan sekitar 100 meter lebih dengan tinggi dari permukaan air sekitar 6 meter dan berbiaya kurang dari Rp. 60 miliar. Bahkan sejak itu area ini menjadi pusat wisata dan kuliner warga lokal dan tamu. Oh ya, nama lalove ini berkaitan erat dengan keberadaan dua tiang pengapit serupa seruling/ alat musik tiup Suku Kaili yang bernama lalove.

Sejak peresmian jembatan pada 26 Agustus 2020, lalove resmi menjadi salah satu landmark Kota Palu. Hal lain yang tidak kalah penting, sampai saat ini tidak ada informasi dan kegaduhan warga akan jalan diantara kedua wilayah itu. Kok mereka bisa baik-baik saja ya?
‘Eheheh….
(Red-01/Supri/Sam – Foto.ist)



GIBRAN – DEDI MULYADI2029:https://www.facebook.com/groups/1352370806000370
KORANPRABOWO FB :https://www.facebook.com/profile.php?id=61557277215737



