Koranprabowo.id, Imajiner :
Kemarin (5/2) saya, istri, Budi D.Ginting – Kord.Prov. Sumut & istri +
3 bocilnya, Arie Kurniawan – Kord, Prov. Bengkulu serta Vien J.Siregar – Kord.Prov. Sumut 1 akhirnya sampai juga di Berastagi , tepatnya area Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Beliau, Paduka Yang Mulia, Ir. H. Sukarno tampak bahagia menyambut kehadiran kami terlihat dari senyumnya , “Mana yang lain, katanya mau datang rombongan?”, tanya beliau sambil duduk dengan stelan jas hijau tuanya, tanpak semakin ganteng saja boss kita ini. “Maaf paduka mereka berhalangan hadir, lain kali mungkin kami akan bersama”, jawab saya.
“Oke tak apa, Kami disini sejak 22 Desember 1948 hingga Januari 1949. Bangunan intinya, berukuran sekitar 10 x 20 meter. Ciri bangunannya bergaya Eropa, baik pada bagian luar maupun dalam, kalau tidak salah dibangun Belanda sejak thn.1719 “, kata Paduka sambil mengajak kami masuk.

“Maaf paduka, menurut kami ini lebih tepat disebut rumah pembuangan daripada rumah pengasingan, karena Paduka memang dibuang Belanda kesini, agar tidak dekat dengan rakyat, bukan diasingkan”, selak Arie, Paduka tersenyum.


“Okelah , saya, Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim dibuang kesini selama 10 hari. Setelahnya, kami dipindahkan ke rumah pengasingan di tepi Danau Toba, di kota Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, hingga 2 bulan lamanya di tahun 1949”, pungkas Paduka sambil menunjukan kamar tidur mereka

“Apa betul, rumah ini oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara disewakan untuk kebutuhan penginapan”, tanya Budi. “Iya Paduka , bagaimana bisa cagar budaya dikomersilkan”, senggah Vien. “Kalau soal itu saya tidak mau menjawab benar atu tidaknya, kalian cari tau sendirilah, hahaha”, jawab Paduka kemudian meminta pengawal menyiapkan minum dan cemilan

Tidak lama masuklah seorang gadis Karo bernama Nadira , dia membawa nampan dengan teh panas dan cemilan khas karo bernama ‘Cimpa tuang, jajanan tradisional yang memiliki rasa gurih dan sedikit pedas. “Kami juga bawakan cemilan khas Jawa barat untuk PimRed, karena memang tidak suka pedas. Silahkan”, kata Nadira sambil berlalu dan tersenyum manis, karena yang dibawakannya adalah cemilan idola saya, namanya ‘colenak, tape yang ditaburi kelapa manis, saya tersenyum kepada Nadira tapi istri saya melotot. Ahahahaha, Paduka pun tertawa. ‘Seru.


“Cemilan Cimpa Tuang ini adalah cemilan kami selama disini, terbuat dari campuran tepung beras, gula merah/aren, dan kelapa parut, adonan ini dimasak dengan cara dituang di atas wajan, berbeda dengan jenis cimpa lain yang dikukus. Jika dulu cimpa hanya disajikan pada saat acara adat Karo, saat ini cimpa tuang sudah bisa dinikmati kapan saja oleh semua kalangan masyarakat”, kata Paduka sambil mempersilahkan kami makan. Wow lejatos.

Sambil ‘ngopi , Paduka menceritakan saat dibuang kesini beliau mencium niat Belanda akan meracun melalui makanan dan minuman, hal ini dibocorkan pelayan perempuan yang juga gerilyawan asuhan TNI disini,
“Selain mau diracun, beberapa kali pasukan Kompi Sabotase dari Batalion XV Resimen IV pimp. Letkol Djamin Ginting berencana untuk menyerbu rumah ini membebaskan kami . Tetapi kami larang melalui pelayan perempuan mata mata kami itu, saya kuoa namanya kalau tidak salah ‘ Risma , gadis karo. Bahkan satu waktu datanglah iring-iringan konvoi perwira Belanda dari Medan. Salah satu mobil menurunkan dua peti bermuatan penuh. Di meja makan peti itu mereka buka, satu peti berisikan uang gulden, satu lagi isinya pakaian mewah. Kemudian mereka menyodorkan selembar surat kepadaku, isinya adalah surat agar saya menyerah atau membatalkan proklamasi. Saya katakan kepada mereka saya harus bicara dengan rakyat jika kalian memaksa lebih baik saya mati disini. Mereka marah dan mengatakan saya bodoh hampir 2 hari disini merayu kemudian mereka pulang ke Medan”, Paduka berceritera matanya garang.

“Para perwira Belanda itu saya tahu disuruh oleh Jenderal Simon Hendrik Spoor, panglima Angkatan Perang Belanda di Indonesia. Gagal membunuh saya , Tuhan memberikan balasannya, dia mati 25 Mei 1949 dalam penyergapan tentara Republik di Tapanuli Tengah”, tambah Paduka.
“Maaf bapak. saat bapak diasingkan ke Parapat, kami dengar ada peran gerilyawan dipimpin Oppung Tindaon dan Buka Sinaga “, tanya Vien Siregar sambil mengikat rambut gondrongnya.
“Nanti kita bahas di edisi selanjutnya, kamu ingat pesan apa yang diberikan PimRed-mu sejak thn.2019?”, tanya balik Paduka. “Siap paduka,saya ingat, apapun alasannya, jangan potong rambut “, jawab Vien, sambil tertawa, kami pun ikut tertawa.
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)



