Koranprabowo.id, HotNews ;
Dikala pemerintah ‘bersorak gembira’ karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39% (yoy). Lebih kuat dari kuartal IV-2024 yang tumbuh 5,02%. Juga berhasilnya Program MBG karena telah menjangkau 60 juta orang, berhasilnya membangun 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi dari target 500 sekolah pada tahun 2029, bersorak gembira karena Aset Danantara lebih dari Rp. 15.000 triliun dan bersorak gembira atas berdirinya 81.778 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan 964 ribu anggota di seluruh Indonesia.

Kita dikejutkan dengan munculnya berita ada anak SD umur 10 tahun di NTT yang melakukan bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membelikan pensil dan buku tulis. Siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini ber-initial YBR , anak ini sedih karena orang tuanya belum membayar lunas biaya pulpen dan buku dari Rp. 1.2 juta yang tersisa Rp. 750.000 disekolahnya.

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti) …. Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)….. Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis) … Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee) ……. Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Karena masalah ini , konon, Presiden Prabowo, Mensesneg, Menteri pendidikan, Menteri terkait lainnya, Gubernur NTT, Bupati dan banyak pihak menyesalkan, marah, malu dan berharap kasus semacam itu tidak terulang kembali. Kok tidak ada klarifiasi atau jumpa pers sebagaimana selama ini dilakukan kabinet?

Adikku YBR, beristirahatlah dengan tenang di SurgaNya. Sebagaimana DIA telah berjanji, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Markus 10:14).
Aamiin Yarabil’alamiin
(Red-01/Foto.ist)
https://vt.tiktok.com/ZSa39xaYP

