Koranprabowo.id, Profile :
Gus Faris – Pengasuh PP. Nadwatul Ummah, Buntet, Kab. Cirebon, cucu KH Abbas Abdul Jamil (Kiai Abbas Buntet , Singa Dari Barat – Panglima Perang 10 November 1945) ) dan putra KH. Prof Dr MA Fuad Hasyim (Gus Hasyim, pendiri sekaligus pengasuh pertama PP. Nadwatul Ummah, Buntet, Kab. Cirebon). Jika ditarik keatas, beliau adalah nasab/trah dari Sunan Gunung Jati /Syarif Hidayatullah, salah satu dari Wali Songo, penyebar agama Islam di Jawa, khususnya di Jawa Barat. Yang juga pendiri Kesultanan Cirebon dan Banten, serta berperan penting dalam mendirikan masjid dan pesantren sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam pada abad ke-15 dan ke-16.

Ilustrasi : Sunan Gunung Jati, Kiai Abbas Buntet, Mbah Muqayim, KH. Fuad Hasyim & Gus Faris.
Alm. Kiai Abbas Buntet adalah seorang ulama terkemuka dan tokoh sentral dari Pondok Buntet Pesantren pada abad ke-20. Beliau dikenal sebagai pemimpin spiritual dan pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Ayah beliau, KH. Abdul Jamil, adalah putra menantu Kyai Muqoyyim bin Abdul Hadi (Mbah Muqoyyim) ; pendiri Pondok Buntet Pesantren pertama kali di daerah Cimarati, Dawuhan Sela, Desa Buntet diperkirakan sekitar tahun 1750.

“Meskipun hidup di zaman yang berbeda (Sunan Gunung Jati pada abad ke-15/16, dan Kiai Abbas Buntet pada abad ke-20), Keduanya adalah tokoh sentral dalam sejarah Islam di Cirebon. Sunan Gunung Jati merintis penyebaran Islam secara luas dan mendirikan dasar-dasar Kesultanan Cirebon, sementara Kiai Abbas Buntet merupakan figur penting yang melanjutkan tradisi keilmuan Islam melalui Pondok Buntet Pesantren, yang menjadi salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Jawa Barat”, demikian Gus Faris saat ditemui dikediamannya waktu lalu.

Saat diminta tanggapan atas konflik PBNU yang stagnan, Gus Faris menjawab secara eksplisit mengusulkan agar dalam pengurus PBNU yang baru harus MLB nanti memprioritaskan ‘pengembalian’ pelaksanaan konsesi tambang sebagai awal kekisruhan kepada pemerintah untuk menghindari mudharat yang lebih besar akibat konflik internal yang ditimbulkannya. Ia juga menyatakan konflik yang terjadi sangat ironis dan memalukan, merusak wibawa organisasi di mata publik.
GUS FARIS, PLURALISME & ISLAM NUSANTARA
Masih kata Gus Faris, Islam sesungguhnya telah memberikan panduan normatif yang jelas tentang bagaimana menyikapi perbedaan keyakinan maupun etnis, sebagaimana disampaikan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa pluralitas manusia adalah sunnatullah yang bertujuan untuk ta‘āruf (saling mengenal), dengan demikian, perbedaan etnis bukan ancaman bagi kesatuan sosial, melainkan potensi untuk memperkaya / memperkuat persatuan dan kesatuan satu bangsa.
“Etnis Tionghoa sangat dekat dengan keluarga besar pesantren Buntet, salah satu anak angkat Kiai Abbas adalah seorang Tionghoa yang kemudian mualaf setelah beliau wafat, termasuk salah satu istri Sunan Gunung Jati yang bernama Tan Hong Tien Nio atau Ong Tien Nio adalah putri kaisar China di zaman Dinasti Ming abad XV yang dinikahi sekitar thn.1481. Orang tua kami telah lama memperkenalkan plularisme sebagaimana dijabarkan dalam Pancasila bahwa pluralitas atau pluralisme adalah dasar toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis”, tambah Gus Faris yang akrab saya panggil Kiai Faris – Orator Pancasilais.

Makam Putri Ong ada di nomor 7
Bersama Putri Ong, yang kemudian diberi gelar Ratu Mas Rarasumanding beliau menyebarkan agama Islam kepada komunitas Tionghoa di Cirebon dan sekitarnya. Pernikahan ini semakin mempererat hubungan Cirebon dengan peradaban Tiongkok hingga Timur tengah. Ini juga yang mendasari perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di Cirebon dan sekitarnya demikian pesat. Kisah cinta mereka, masih kata Gus Faris bukan hanya romantika melainkan tentang iman, politik, diplomasi, dan kebudayaan yang membentuk jati diri Kesultanan Cirebon. Ada pesan kuat tentang pluralisme, toleransi, kesetiaan, dan kebesaran jiwa dalam dakwah dan kepemimpinan.
Pernikahan keduanya tak berlangsung lama. Sebab pada tahun 1485 putri Ong Tien meninggal dunia atau 4 tahun pernikahan mereka. Makamnya yang tidak jauh dari makam sang suami tidak hanya dikunjungi oleh umat Islam saja, tetapi dari agama yang lain pun khususnya etnis Tionghoa selalu ramai hingga saat ini. Dari hal yang disampaikan Gus Faris bolehlah kita ambil benang merah jika Sunan Gunung Jati , NU & Pesantren Buntet Cirebon sejak didirikan tahun 1750 turut memberikan kontribusi tentang ajaran agama Islam yang mengedepankan Pluralisme, perdamaian, kebangsaan, dan keindonesiaan. sebagaimana kemudian disebut ISLAM NUSANTARA.
Sebagai penutup, saat ditanya bagaimana harapan atas konflik di PBNU, sambil tersenyum Gus Faris menjawab, ‘Akan indah pada waktunya”
‘Okelah, kiai. Eheheh.
(Foto.ist)
