Koranprabowo.id, HotNews :

Pagi ini (6/1) saya menelepon PimRed dan menanyakan tentang penyakit PTOSIS , yang menjadi gaduh karena ulah komedian Panji Pragiwaksono yang meledek Wapres Gibran ‘mengantuk’ dengan gimmick diluar adab. Kemudian menjadi viral di media sosial, sehingga para relawan pun bereaksi termasuk artis yang juga dokter, yaitu Dokter Tompi menyayangkan prilaku Panji, karena melakukan cemooh fisik dan oral kepada orang lain diruang publik. Dokter Tompi menyebut itu adalah salah satu tanda seseorang terkena penyakit/menderita PTOSIS.

Saya pun mencoba mencari tahu akan PTOSIS, dalam beberapa sumber medis disebutkan bahwa PTOSIS adalah penyakit yang diberikan Tuhan kepada umatnya sebagaimana penyakit lain, PTOSIS (Blepharoptosis) adalah kondisi ketika kelopak mata atas turun karena berkurangnya kekuatan otot yang berfungsi untuk mengendalikan kelopak mata. Kondisi ini bisa terjadi pada salah satu ataupun kedua kelopak mata.

Ptosis adalah kondisi yang dapat terjadi sejak lahir (congenital) ataupun di kemudian hari (acquired). Jika terjadi secara tiba-tiba, ptosis umumnya dikaitkan dengan kondisi medis serius seperti pada otak, saraf, atau rongga mata. Bisa disembukan dengan beberapa tindakan medis, obat atau operasi.

 Pembedahan dilakukan dengan mengencangkan otot levator atau menghubungkan kelopak mata ke otot lain yang dapat membantu mengangkat kelopak mata. Tujuannya adalah untuk memperbaiki penglihatan.

PTOSIS adalah karunia dan berkat Tuhan, bahkan ada aktor Indonesia sejak thn.1970-an dengan ciri khas “mata ngantuk” dialah  Herman Ngantuk (Soeherman). Ciri fisik ini menjadi julukan yang melekat pada dirinya sepanjang kariernya di dunia film dan sinetron. Penampilannya yang memiliki kelopak mata menurun memberikan kesan seolah-olah ia selalu mengantuk, dan hal ini menjadi identitas uniknya di mata publik dan sesama rekan artis. Lalu apakah almarhum kelahiran thn.1951 dan meninggal thn.2024 selama hidup dengan PTOSIS-nya merepotkan orang lain?

Dalam keyakinan dan agama kami, Yesus mengajarkan bahwa hal yang kotor berasal dari hati (pikiran jahat, iri hati, fitnah) dan itulah yang membuat seseorang tidak berkenan bagi Allah, bukan hal dari luar. Sebagai pengikut Kristus, kita harus belajar rendah hati dan mengasihi, bahkan mendoakan mereka yang menghina kita, bukan membalas dengan hinaan. Efesus 4:29 “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.” Ayat ini mengingatkan kita untuk menggunakan perkataan yang membangun dan penuh kasih, bukan yang merendahkan atau menghina.

(Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?