Koranprabowo.id, Mistis :
Ini sebenarnya pembicaraan lanjutan saya dengan PimRed sejak tgl. 29 Februari lalu , namun baru dirapungkan menjadi tulisan hari ini (22/4). Ini diskusi ringan tentang Gunung Tidar, Magelang , Jawa Tengah. Yang disebut sebagai “Paku Tanah Jawa” karena letaknya di tengah Pulau Jawa, yang konon ada kekuatan ghoib disana agar Pulau Jawa tidak goyah. Disebut juga tentang Mitos disana ada sebuah tombak besar yang dikenal dengan nama Tombak Kyai Sepanjang milik Eyang Semar yang berfungsi sebagai ‘paku’ bumi Pulau Jawa. Penahan /stabilisator bencana alam, dsb.


Meskipun Gunung ini ketinggiannya tidak lebih dari 500-an meter namun gunung ini dikenal sebagai tempat bertemuanya 2 tokoh sakti, yaitu antara seorang ulama besar bernama Syekh Subakir dan Eyang Semar (Eyang Ismoyo Jati/Kyai Slamet/Sabdo Palon/Janggan Smarasanta) yang dipercaya sebagai penguasa tanah Jawa. Ceritanya, dulu Pulau Jawa masih berupa hutan belantara angker yang dipenuhi dedemit dan jin-jin jahat yang ‘kantor pusatnya’ ada 2 yaitu di Gn.Tidar dan Pantai Selatan.Ada juga yang menyebutnya Alas Roban dan Gn.Merapi. Kemudian, pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi, Syekh Subakir diutus oleh SULTAN MUHAMMAD – I dari Kesultanan Turki Usamani yang sebelumnya sempat bermimpi diberi petunjuk untuk menyebarkan Islam di tanah asia jauh (Jawa).

Ilustrasi Sultan Muhammad I
Sebagian sumber menyebut jika Syeikh Subakir adalah Maulana Muhammad al-Baqir , putra dari Syekh Jumadil Kubro, kakak dari Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik

Sesampainya Syekh Subakir di Nusantara (Indonesia), dia mencari keberadaan Eyang Semar hingga beberapa purnama/bulan. Dalam pencarian itu Syekh melihat bahwa pulau Jawa ini memang dikuasai oleh para dedemit/jin yang bisa mengubah wujudnya menjadi ombak besar dan hewan buas laut, darat dan udara yang mencelakakan para ulama dan masyarakat luas.

Eyang Semar akhirnya mau menemui Syekh di Gung Tidar itu, ke-2nya beragumentasi dan terjadilah ‘perang – dahsyat’ diantara ke-2nya sehingga konon Gunung Tidar dan beberapa gunung sekitar pun bergetar hebat karena adu saktinya mereka. Bahkan beberapa pohon keras disana seperti Mahoni, Khaya Damar , dsb tumbang dan hangus terbakar. Diceriterakan dalam peperangan itu ‘nggak ada yang kalah ataupun menang. Keduanya pun kemudian memutuskan untuk membuat perjanjian damai.

Siapa sangka, ternyata niatan Syekh Subakir diterima baik oleh Eyang Semar. Sebagian orang meyakini perjanjian ini akan ‘diulang kembali’ setiap 1000 tahun yang jatuhnya sekitar bulan Juni. Bahkan tahun 2020 lalu disebut perjanjian yang ke-616 namun dibatalkan karena ada Covid19, lalu kemudian ada Pilpres thn.2024 bahkan katanya akan diulang Juni 2025 yad. Wallahualam bishowab.
Setelah itu, Syekh Subakir diajak ke padepokan agung milik Kyai Semar di Alas Purwo. Sebagian orang bilang Kyai Semar berdiam di GOA MANGLENG. Di sana, Syekh Subakir diminta untuk mengubah dua sumur yang berbau busuk menjadi wangi. Kalau berhasil, Kyai Semar dan para dedemit mempersilahkan Kyai Subakir menetap di Gn. Tidar dan Eyang Semar akan kembali ‘berkelana’

Syekh Subakir menerima permintaan yang diajukan oleh Eyang Semar. Dengan bantuan Allah SWT – Tuhan YME melalui tombak pusaka Kyai Sepanjang, air sumur pun dapat menjadi wangi dan sontak para dedemit /jin mengaku takluk dan menyingkir dari Gunung Tidar menuju selatan, mereka bersumpah akan terus ‘mengganggu’ manusia melalui bencana air, api dan tanah. Ada pun Kyai Semar kalau pun diminta menjadi ‘Lurah Bodronoyo’ oleh Syekh Subakir, ia lebih memilih tetap ‘berkelana’. Syekh Subakir pun memilih Gunung Tidar sebagai ‘KANTOR PUSAT’ berdakwah di Nusantara khususnya pulau Jawa.
Jika Eyang Semar disebut abadi/tidak meninggal, beda versi dengan Syekh Subakir banyak sumber yang berbeda lokasi makamnya ada yang menyakini di Gn.Tidar, ada juga yang menyebut di Kabupaten Tuban. dsb. Ada juga yang menyebut makamnya di Persia sejak thn.1446.
‘Mohon maaf jika ada hal yang tidak berkenan dan kurang sempurna, Wasswrwb.
(BDG/Foto.ist)




