Koranprabowo.id, Unik :
Saat bertemu PimRed (3/10) lalu banyak hal yang kami diskusikan khususnya tentang banyaknya anak keracunan MBG dan keinginan pemecatakn kepada Kepala BGN – Badan Gizi Nasional – Dadan Hindayana karena ‘memang nyebelin dalam memenej program mulia presiden ini. Juga ada hal lain yang kami diskusikan yaitu mengenai sosok ‘Nyi Endang Sukati,
Ini terkait dengan Nyi Mas Rara Santang yang lahir pada tahun 1426 masehi, anak kedua Prabu Siliwangi (Sribaduga Maharaja) Raja Kerajaan Pajajaran dari istrinya Ratu Subang. Yang sulung bernama Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), dan yang bungsu bernama Raden Kian Santang.
Kalau pun orang-tuanya sudah muslim , anak-anaknya diberi kebebasan untuk beragama. Sebelum kerajaan Pajajaran pindah ke Pakuan (Bogor) mereka menghabiskan masa kecil dan remajanya di Istana Galuh Kawali, Ciamis, Jabar.

Menjelang dewasa mereka pun diberikan kebebasan untuk berkelana, Rara Santang pun memilih arah selatan hingga tibalah di Gunung Tangkuban Perahu, perbatasan Kab. Bandung Barat – Subang, Jabar. Perjalanannya ditemani seekor macan kumbang bernama Ki Seto hingga beberapa bulan purnama. Jika normal jarak saat ini, sekitar 185 Km. Saat di Gunung Tangkuban Perahu, Nyi Rara Santang bertemu dengan seorang Perempuan bernama ‘Nyi Endang Sukati’. Sebagian sumber mengatakan beliau adalah seorang perempuan tua renta penyamaran dari seorang putri cantik dan sakti keturunan Ratu Tiongkok-Sunda Galuh. Yang dikawal oleh sepasang buta/raksasa.

Selain memperdalam agama Islam, Rara Santang pun belajar ilmu sakti salah satunya adalah menghilang dan dapat berjalan diatas air dan api. Setelah dianggap mampu kemudian Rara Santang diminta untuk meneruskan perjalanannya menemui Ki Ajar Sekti di Argaliwung (Perbatasan Cirebon) juga dibekali jubah/pakaian bernama ‘Hawa Mulia’, untuk menyempurnakan kesaktiannya karena jika menggunakannya kaki tidak akan menyentuh tanah, bisa berjalan di atas air, tidak akan terbakar jika terkena api, bisa berjalan lebih cepat dari angin.

Pada saat tiba di Angaliwung, Ki Ajar Sekti memintanya untuk ke gunung merapi untuk bertemu kakaknya Raden Walangsungsang . Setelah bertemu, dari kakaknyalah akhir Rara Santang tahu jika Nyi Endang Sukati memang perempuan sakti yag mendapat misi Syi’ar Islam di tanah Jawa.

Disumber lain, usai Rara Santang menuju Gn. Merapi. Nyi Endang pun melanjutkan berkeliling Jawa , di sekitaran Dusun Wonorojo, Tamanrejo, Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah. Nyai Endang kelelahan kemudian beristirahat di atas sebuah batu besar yang berada di atas sungai (Sungai Planangan). Konon, batu besar tadi dijadikan sebuah bantal oleh beliau tatkala istirahat sekaligus dijadikan tempat untuk melakukan salat. Karena hal itulah mengapa sekarang batu itu oleh masyarakat setempat dinamai ‘Watu Bantal’.
‘Believe or not
(Foto.ist/Berbagai sumber)
