Koranprabowo.id, Politik :

Kelangkaan pupuk bersubsidi adalah masalah yang sering dihadapi petani di Indonesia khususnya diantara thn.2004-2014. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk keterbatasan alokasi, distribusi yang tidak merata dan penyalah-gunaan pupuk bersubsidi.

Tahun 2019 – 2021, kita mengalami kelangkaan pupuk salah satunya dikarenakan Covid 19 dan konflik Rusia – Ukraina, dimana bahan dasar pupuk adalah dari ke-2 negara ini. Presiden Jokowi pernah menyiasati kelangkaan ini dengan pencanangan pupuk organik.

“Pupuk organik pada dasarnya sangat membantu petani untuk mengatasi kelangkaan pupuk baik yang subsidi maupun yang non-subsidi. Dan pada sisi yang lain juga sebagai upaya mengatasi kerusakan lahan yang sudah parah. Serta meningkatkan UMKM dan penyerapan tenaga lokal”, seperti itulah pesan beliau.

Jokowi melihat penggunaan pupuk organik sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya fluktuatif dan dapat memberatkan petani. Juga Jokowi telah meminta Kementerian Pertanian saat itu untuk kembali memberikan subsidi pada pupuk organik, yang diharapkan dapat meringankan beban petani dan mendorong adopsi pupuk organik secara lebih luas. 

Kalau pun demikian, Jokowi memaklumi jika masih banyak petani yang menggunakan pupuk kimia karena keterbatasan SDM, dsb. Maka kemudian Jokowi pun meminta agar dilakukan kenaikan jumlah pupuk subsidi, dari 4,5 juta ton menjadi 9,5 juta ton. Dengan kenaikan tersebut diharapkan menjadi pemicu produksi meningkat agar mampu memenuhi kebutuhan domestik dan mancanegara.

Dan upaya itu pun berhasil, sebelum mengakhiri jabatan, jumlah pupuk bersubsidi yang dialokasikan untuk tahun 2024 mencapai lebih dari 9,5 juta ton dengan anggaran sekitar Rp.46,8 triliun.

Rincian alokasi pupuk bersubsidi tahun 2024 adalah:  Urea: 4,6 juta ton, NPK: 4,2 juta ton, NPK Kakao: 147.000 ton dan Organik: 500.000 ton

Tahun 2025 jumlah pupuk bersubsidi tetap bertahan disekitar 9,5 juta ton, sama dengan tahun 2024 yang dibagi menjadi beberapa jenis pupuk, yaitu ; Urea (4,6 juta ton), NPK (4,2 juta ton), NPK Kakao (147 ribu ton), dan pupuk organik (500 ribu ton). 

Antusiasme petani di seluruh Indonesia begitu tinggi, menyambut kebijakan Jokowi yang diteruskan presiden Prabowo sebagai dasar dari ketahanan pangan sektor pertanian dengan penyediaan dan distribusi pupuk yang lebih baik dari tahun sebelumnya termasuk penyederhanaan skema penebusan pupuk subsidi dan ‘alokasi yang lebih terencana.’perlawanan’ kepada mafia pupuk.

Namun kita juga sedih , karena sampai tulisan ini dibuat masih juga kita temukan banyak petani yang mengeluhkan harga pupuk bersubsidi yang diatas Rp. 150.000/sak, bahkan di NTB mencapai Rp. 350.000/sak, dsb.

Perwakilan kelompok tani di Kab.Langkat – Sumut , Kab. Renjanglebong – Bengkulu , Kab. Cirebon – Jabar dan Kab. Madina – Sumut mengatakan kepada redaksi untuk harga kisaran Rp. 115.000 – 120.000/sak , ‘Okelah, asal dijamin kualitas dan distribusinya’

Maka selaku relawan kami berharap besar kepada

Agar selalu ‘dekat’ dengan petani dalam segala hal, kami juga berharap PSI GAJAH fokus atas ini. Jangan lupa saat ini jumlah petani nasional lebih dari 27,2 juta dan sekitar 17,25 juta petani gurem, yaitu petani yang mengelola lahan kurang dari 0,5 hektar. PSI GAJAH paham dong?, terlihat sepele namun punya makna sendiri untuk thn.2029 yad, Eheheh.

(Red-01/Foto.ist)

KORANJOKOWI 2019-2024: https://www.youtube.com/@koranjokowiofficial5547

@koranjokowi.com

@koranjokowi

HOME

@.koranprabowo.id

@koranprabowo.id

KORANPRABOWO FB :https://www.facebook.com/profile.php?id=61557277215737

@gibran4ri1

https://www.facebook.com/share/1ApupGtMtL

@gibran4ri1

KORANJOKOWI 2025 – 2029:

https://youtube.com/watch?v=1ISIHs_U3y8%3Ffeature%3Doembed

KORAN PRABOWO 2025 – 2029:

https://www.youtube.com/@KORANPRABOWO-h7c

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?