Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H Asshiddiqie , mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia thn.2003–2008. Pribadinya sangat menarik namun tegas dalam sikap maka dia pun pernah menjabat Asisten Wapres B.J. Habibie (1998-1999) yang aktif terlibat dalam proses reformasi hukum dan politik di masa transisi pasca Orde Baru, termasuk aktif sebagai tim ahli MPR dalam proses perubahan UUD 1945.
Ada yang saya ingat dan sangat menarik dari Jimmly adalah saat Pilpres 2004-2009, dimana SBY berpasangan dengan JK melawan Megawati – H. Muzadi. Jimmly menegur tim SBY karena terlalu cepat mengumumkan kemenangan sedangkan saat itu baru versi quickqount yang keluar.
“Apapun, kita harus menghormati proses mekanisme konstitusional yang sudah ada, jadi tidak boleh mendahului ya,” ucapnya
Disaat Menbud – Fadli Zon ‘ngotot’ bahwa pemerkosaan masal di Mei 1998 dan akan melakukan penulisan buku baru, saya pun jadi ingat bahwa Jimmly adalah salah satu Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk untuk menyelidiki Kerusuhan Mei 1998.
Saya juga tidak tahu apakah Jimmly dilibatkan dalam ‘proyek ini atau tidak, seharusnya iya.
Munculnya kasus ijasah palsu sebagaimana yang diributkan Roy Suryo Cs, Jimly mengatakan, “Itu tindakan tidak etis dan merupakan strategi ‘licik’ yang kerap digunakan untuk menjatuhkan lawan politik secara tidak sehat”
Jimly juga mengatakan bahwa kasus ijazah palsu Jokowi dibuat agar meluas keranah politik termasuk mempersoalkan wapres Gibran.
Namun mereka lupa, Jokowi dan Gibran akan banyak mendapat simpati masyarakat .
Khusus tentang Gibran, kata Jimmly , pastinya Presiden Prabowo tidak tinggal diam, dia pasti akan melindungi Gibran.
“Saya rasa karena yang memilih wakil presiden itu adalah ketua umum Gerindra sebagai calon presiden, yang memilih Gibran itu dia (Prabowo), saya rasa dia akan melindungi wakil presiden. Gitu lho,” kata Jimly.
“Ya kan? Apalagi, wakil presiden ini putra dari mantan presiden (Jokowi) ketika dia (Prabowo) menjadi anggota kabinetnya,” lanjutnya.
Jika dipaksakan maka akan ada perlawanan dari pendukung Prabowo – Gibran yang jumlahnya lebih dari 92 juta, tutup Jimly.