Koranprabowo.id, MICE :

Relawan/voulenter tidak melulu soal kegaduhan politik, dia ada dalam hati terdekat. Sebagaimana yang ada dalam diri Herny Gusbrava – Founder HG Podcast , Gd. Creative center kawasan gedung negara, Kesenden, kec. kejaksaan, kota Cirebon. Yang juga selaku host di acara Podcast,‘ Pesan Kehidupan Lewat Menulis’, di KPA – Komisi Penangulangan Aids – kota Cirebon kemarin (30/10)

‘Teh Herny , panggilan saya, juga dikenal sebagai Consultant at Excellent Training Centre, FDJ & Consultant Human Behavior Program at Nuansa Radio Cirebon, and Consultant of Education at Progresio Edukasia Bandung. Yang mengawali pertanyaan saat on-podcast. ‘Mengapa menjadi jurnalis?‘, sontak saya bingung karena saya bukan jurnalis karena lebih senang disebut relawan .

“Salah jalan”, jawab saya sambil menelan air ludah yang kali ini terasa rasa juice- paria atau juice blimbing sayur, asem. Kang Agus Nur Ismail – Sutradara dan penulis ‘kawakan yang duduk disebelah mengedipkan mata, Eheheh.

Durasi terus berputar, saya memang senang nulis sejak kecil bahkan saya punya tokoh fiksi ‘Tomang, seekor anjing yang selalu setia menemani majikannya yang (maaf) disabilitas (tuna rungu dan lumpuh sehingga kehidupannya hanya diatas kursi roda) dan tokoh ‘Bareta saat di bangku SMP. Semua saya tulis dikertas HVS , dan dibagi 2 sehingga menyerupai novel/buku.

Tomang adalah anjing kampung biasa berwarna hitam pekat, pengawal/penjaga majikannya bernama Deo – 10 thn siswa SLB-G/GANDA (tunaganda atau memiliki lebih dari satu kelainan), adapun BARETA , rekaan seorang remaja hero pembasmi preman-preman dan pengedar narkoba sepanjang rel kereta api Gambir – Jatinegara. Yang selalu bertopi baret , menutup wajah dengan kain merah dan membawa stick Golf – jenis Pitching wedge , untuk melakukan berbagai jenis pukulan.

Saya sejak kecil punya cita-cita jadi TNI AL, namun karena sudah berkaca mata minus dan tinggi badan kurang mendukung. Maka harus saya bunuh keinginan itu, tahu diri. Karena saya senang menulis maka saya teruskan kesenangan itu , semakin semangat saat lulus SD di Bandung saya dibelikan sebuah mesin tik oleh alm.ayahanda. Kemudian berlanjut terus hingga dibelikan juga PC – Personal Computer saat kelas 2 SMP sebagai hadiah karena nilai pelajaran mengarang saya 8. Yang lain ?, enam koma.

Untuk lengkapnya isi Podcast , silahkan lihat link

https://www.youtube.com/@HGPodcast_/podcasts

https://www.instagram.com/_hgpodcast?igsh=MWExNGV6N2llYzR3aA==

Teman teman relawan dimana saja berada,

Menulis tanpa foto/gambar/visual, sama dengan makan nasi tanpa lauk. Enak tapi ‘nggak lengkap, keinginan punya kamera itu didorong saat kelas 2 SMP di Jakarta timur setelah melihat sebuah surat-kabar nasional langganan ayah yang menampilkan sebuah foto tentang anak berusia sembilan tahun, Phan Thi Kim Phuc, yang lari telanjang dan ketakutan di jalan setelah serangan Angkatan Udara Vietnam Selatan melancarkan serangan bom napalm yang secara tidak sengaja menghantam Desa Trang Bang pada 8 Juni 1972, satu tahun sebelum saya duduk di SMP. Edan, dengan sebuah foto/gambar saja dia bisa berceritera 1 juta kata. Tanpa menulis.

Saat di usia ‘putih abu-abu’, saya ikut gabung disebuah surat-kabar non-mainstream di Jakarta. Bukan berita yang saya kirim setiap pekannya namun tulisan bebas dengan judul ‘Wawancara Imajiner Bersama Bung Karno’, kalau pun dibuat acak-kadut kemudian PimRed-nya meminta rubrik itu menjadi wajib tayang/pekan tanpa harus di-edit lagi oleh editor/PimRed. Saya diberikan ruang seluas-luasnya.“Dasar tulisan kamu itu data dan fakta, adapun penyajian tulisan dan narasi tidak penting. Ibarat renang tulisan kamu kamu itu gaya bebas. Ada data, fakta dan pesan. Cukup”, itu yang saya ingat tanggapan PimRed waktu itu.

Dan sejak era-digital melalui koranjokowi.com tahun 2019 dan koranprabowo.id saya menyediakan rubrik ‘imajiner, tentang pesan apapun. Namun ada data dan fakta, sebagai rumusan awal, adapun narasi/penyajian, suka suka gaya non-mainstream/underground. Eheheh.

Bagi saya, Menulis adalah pilihan hati, explore diri dan harus berani ‘tampil beda. Kalau pun banyak senior yang mengatakan ‘nora’ , saya terus jalan dengan cara saya. Banyak manfaat yang saya rasakan selama ini, selain kepuasan diri juga bagaimana cara membantu orang lain melalui tulisan atau foto/gambar. Ini sebagian contoh , saya memberi ide, teman-teman yang men-eksekusinya.

Do Something!,

lakukan sesuatu. Kita harus melakukan/ mengambil tindakan tertentu untuk membantu suatu situasi, jangan hanya diam, masa bodoh dan berdiri saja. Kamu dapat lakukan sesuatu hal dengan sukarela hanya berharap akan ada perubahan dan kebaikan atas apa yang kamu tulis dan sampaikan kepada orang lain. Kalau pun hanya memindahkan sebuah duri dijalan itulah hakikinya seorang relawan. Dan tidak usah marah jika ada yang menyebut kita, ‘Nora.

“Qulil haqqo walau kaana murran, katakanlah yang benar meskipun itu pahit”. If you think You Can, do it. Terima-kasih kepada Teh Herny, manajemen HG Podcast dan KPA- Komisi Penanggulangan Aids – Kota Cirebon. Ikan hiu muter – muter, see you later. Mohon maaf lahir bathin.

Adios,

BERSAMBUNG

(Red-01/Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?