Koranprabowo.id, MICE :
Kemarin (Jumat,30/10) saat Podcast ‘ Pesan Kehidupan Lewat Menulis’, di KPA – Komisi Penanggulangan Aids, kota Cirebon , kepada Agus Nur Ismail (Kang Agus) – host Herny Gusbrava – Founder HG Podcast , bertanya “Mengapa tertarik dalam Film, khususnya profesi sutradara?”, “Sejak kecil saya senang menulis, kemudian belajar pula dunia teater, cita-citanya kemudian berkembang menjadi Sutradara paket lengkap, karena banyak penulis yang belum tentu mampu jadi sutradara dan sebaliknya. Maka teman-teman menyebut saya Sutradara paket lengkap, ya penulis , ya sutradara”, Jawab Kang Agus.
“Perbedaan dalam berdialog di film dan teater?”, tanya Teh Herny. “Dalam teater suara, voice, intonasi lebih real. Keras, mendukung karakter peran yang dimainkan. Apalagi saat era kami tidak ada clip-on, di Film sebaliknya. Lebih soft, semua dikendalikan oleh tekhnologi film?”, jawab Kang Agus lagi. Kemudian menirukan gaya film dan teater dalam hal intonasi, olah suara. Dimana itu ada dalam naskah/tulisan atau alur ceritera. Ingat, tulisan yang mendasari sebuah dialog dalam film dan teater. Bukan sebaliknya, jadi tulisan ibarat ibu.Eheheh.
Untuk lengkapnya isi Podcast , silahkan lihat link
https://www.youtube.com/@HGPodcast_/podcasts
https://www.instagram.com/_hgpodcast?igsh=MWExNGV6N2llYzR3aA==

Teman-teman relawan dimana saja berada,
Kang Agus saya kenal lama, sejak jaman kuda makan portal. Sederhana, namun kalau sudah dilapangan, jangan harap ada senyum. Lebih aman kita menyingkir. Sebagaimana sutradara lawas, alm.Teguh Karya, Rudi Sujarwo – Film AADC, Joko Anwar – Film Gundala, Riri Riza – Film Laskar Pelangi, dsb. “Dari 4 tokoh ini yang mana menurut akang yang paket lengkap?”, tanya saya saat coffe morning (2/11) di kantor Angary Skincare & PT. Afa Mitra Cendana, Talun, Cirebon lalu. “Mas Teguh, Joko dan Riri. Ini pendapat pribadi saya”, jawabnya.
“Bagaimana nama akang yang awalnya Agus Nur Ismail kemudian dikenal dengan Agus Noor Ismail?”, tanya saya lagi. “Ya karena saya dianggap paket lengkap, penulis dan sutradara. Ini didaulat oleh teman-teman disebuah festival teater di Jakarta thn.1980-an, nama populerlah. Saya hargai itu sebagai atensi sejawat kepada saya dan karya saya, Alhamdulillah.”

Jika kita membuka aplikasi WA, dan gulir ke AI , dilingkaran ungu lalu tulis ‘Agus Nur Ismail’, maka yang keluar adalah, ” Agus Nur Ismail adalah seorang peneliti dan penulis yang memiliki latar belakang pendidikan dan penelitian di bidang pendidikan Islam dan humanistik. Ia telah menulis beberapa karya ilmiah, termasuk skripsi tentang dimensi humanistik dalam pembelajaran pesantren berdasarkan kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari. Selain itu, Agus Nur Ismail juga menjadi penulis dan penyunting buku Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah. Ia memiliki minat penelitian di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia“, Wiiihhhh, keren.

Saya pun membuka Hp lalu menuliskan kata Arief priatna suwendi, Disana tertulis, “Maaf, saya tidak menemukan informasi tentang Arief Priatna Suwendi. Mungkin Anda bisa memberikan konteks atau detail lebih lanjut tentang siapa Arief Priatna Suwendi dan apa yang Anda cari tentang beliau? Saya akan coba membantu semaksimal mungkin”, Duuuh…gusti sambil tepuk jidat.
Saya pun menulis, “Koranjokowi.com”, jawabnya, “Koranjokowi.com adalah media independen yang terkait dengan relawan Jokowi, yaitu Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013) dan Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi). Mereka memiliki sekitar 4.230-4.232 artikel yang membahas berbagai topik, termasuk politik, pemerintahan, dan isu sosial“
“Koranprabowo.id”, tulis saya lagi. Jawabnya, “Koranprabowo.id adalah media independen yang terkait dengan relawan Prabowo Subianto. Media ini merupakan kelanjutan dari Koranjokowi.com, yang awalnya mendukung pasangan Joko Widodo-Ahok pada Pilgub DKI Jakarta 2012. Koranprabowo.id memiliki struktur organisasi dengan Arief Priatna Suwendi sebagai Koordinator Nasional Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (Akarjokowi2013) dan Pimpinan Umum/Redaksi”, Yes !, Eheheh.

Atas semua diatas saya bertanya kembali ke Kang Agus, “Apakah kita harus menerima ikhlas jika karya kita akan lebih dikenal daripada nama kita, kang?”, tanya saya atas ini. “Ya begitu, harus besar hati. Ikhlas ,ehehe”, jawabnya kemudian pamit ketoilet.
Saya pun coba mengetik nama Herny Gusbrava, jawabnya. “Maaf, saya tidak menemukan informasi tentang Herny Gusbrava. Mungkin Anda bisa memberikan konteks atau detail lebih lanjut tentang siapa Herny Gusbrava dan apa yang Anda cari tentang beliau? Saya akan coba membantu semaksimal mungkin”

https://hernygusbravacommunity.blogspot.com
Kemudian saya tulis lagi HG Podcast, jawabannya, “HG Podcast bisa merujuk pada beberapa hal, antara lain: HG Podcast (Hannah Gaines): Sebuah podcast yang membahas tentang fashion, musik, pop culture, dan film, dengan Hannah Gaines sebagai host. Podcast ini dapat ditemukan di platform media sosial dengan nama @hgaines.space. HG Unlocked: Sebuah podcast yang membahas tentang topik-topik seperti kepercayaan, penyembuhan, dan pertumbuhan pribadi, dengan Jay Shetty sebagai host. Podcast ini tersedia di Apple Podcasts, Spotify, dan platform lainnya. Namun, tanpa konteks lebih lanjut, sulit untuk menentukan podcast “HG” mana yang Anda maksud. Jika Anda memiliki informasi lebih lanjut, saya dapat membantu lebih spesifik”, eheheh.
Kadang kita harus pahami, bahwa banyak cara Allah SWT – Tuhan YME memberikan kenikmatan kepada kita kalau pun kita sama-sama bukan ‘orang populer’ namun kita berharap Allah selalu bersama ke-relawan dalam profesi masing-masing kita sebagaimana QS. Al-Isra ayat 7: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri”.
Adios
(Red-01/Foto.ist)
BERSAMBUNG
