Koranprabowo.id, Unik :
……. Tu angka donganta na diuji Debata marhite banjir dohot longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dohot di Aceh, pos ma rohamuna tu Debata, holan Ibana do pangaramotimuna. Palua ma na binuatNa i, ai Ibana do nampuna i tutu. Sai tibu ma salpu pangunjunan on, jala boi ma hita manguduti pardalananta. Debata mandongani hita saluhutna, amen ….
Untuk para saudara saudara kami yang sedang diuji Tuhan dengan bencana banjir dan longsor di Sumatera utara, sumatera barat dan aceh tetaplah yakin kepada Tuhan bahwa hanya dia penjagamu, ikhlaskan apa yang telah diambilnya lagi karena itu memang milik Tuhan. Semoga ujian ini cepat berlalu dan kita dapat lanjutkan kembali perjalanan hidup ini. Tuhan bersama kita semua, amin.
Teman teman relawan dimana saja berada,
Puisi Batak (Umpasa) adalah sastra lisan untuk mengungkapkan nilai-nilai budaya dan pandangan hidup, yang disusun dengan penuh makna, membuat tersenyum juga bisa menyesakan dada termasuk mengenai bencana. Bencana sering dilihat sebagai teguran alam akibat ulah manusia yang merusak lingkungan, seperti penebangan hutan dan perusakan sungai. Sebagaimana yang terjadi sepekan lalu di Sumatera utara, Sumatera barat dan Aceh.
Umpasa adalah seni lisan puisi lama berupa pantun dalam masyarakat Batak Toba. Umpasa terdiri dari syair-syair yang mengisyaratkan pernyataan restu, nasihat, dan/atau doa bagi orang yang mendengarnya tergantung situasi pengucapannya. Umpasa dilontarkan dalam upacara-upacara adat, seperti ulaon pardongansaripeon (pernikahan), ulaon manulangi natua-tua, ulaon habot ni roha (peristiwa duka), dan upacara-upaca adat kecil lainnya.

“Ratapan Tano Batak” (Ratapan Tanah Batak)
Di lambung ni dolok na gogo,
Hutan na ias so adong na maneba,
Rura na bagas, aek na tio,
I do tano hatubuan, tano hagodangan.
Di sisi gunung yang perkasa,
Hutan yang bersih tanpa noda,
Lembah yang dalam, air yang jernih,
Itulah tanah kelahiran, tanah pertumbuhan.

Alai nuaeng, aha na masa?
Hutan gundul, sungai mambahen haba,
Banjir ro, tano longsor,
Ratapan tangis, gabe so tarontok.
Namun kini, apa yang terjadi?
Hutan gundul, sungai keruh,
Banjir datang, tanah longsor,
Ratapan tangis, tak terbendung.

Molo sinuan hassang, hassang do na tubu,
Molo sinuan hajahaton, hajahaton do na ro,
Bencana alam, surat ni Tuhan?
Manang ulah ni jolma na so marroha.
Jika ditanam kacang, kacanglah yang tumbuh,
Jika ditanam kejahatan, kejahatanlah yang datang,
Bencana alam, surat dari Tuhan?, Atau ulah manusia yang tak berakal.

Ya Tuhan,
Sumatera dan Aceh sedang terluka dan hancur saat ini. Kami berdoa bagi mereka yang telah kehilangan orang terkasih, mohon hibur mereka dalam duka dan kegelapan dunia, selimuti mereka dengan kedamaian dan kehadiran-Mu, sebagaimana hanya Roh-Mu yang mampu melakukannya.
Kami tahu bahwa dalam apa pun yang kami hadapi, Engkau adalah tempat perlindungan dan kekuatan kami, pertolongan yang selalu hadir di saat-saat sulit. Terima kasih karena Engkau mengingatkan kami melalui Firman-Mu bahwa Engkau selalu bersama kami. Membisikkan ketenangan. Mengucapkan kedamaian. Memberikan ketenangan bagi jiwa kami. Dan luruskan hati mereka yang masih sombong dan angkuh karena menyebut bencana ini adalah hal biasa. Amen.
(Foto.ist)
