Koranprabowo.id, KepalaDaerah :
Ketika bantuan sosial seperti KIS dan KJP mendadak tidak aktif saat hendak digunakan,
masyarakat miskin bukan hanya kehilangan akses, tapi juga kehilangan kepercayaan.
Ironisnya, keputusan itu kerap diambil dari balik meja kantor pusat—bukan dari
pengamatan langsung di lapangan.

Bagaimana bisa satu keluarga dinilai sejahtera hanya berdasarkan pemadanan data
digital dan uji petik statistik? Apakah kesejahteraan kini cukup ditakar dari kolom-
kolom excel, bukan dari piring makan yang kosong atau tunggakan sekolah anak?
Padahal, RT/RW dan Kelurahan adalah pihak yang pertama melihat siapa yang kesusahan
saat harga beras naik, siapa yang mengutang di warung, siapa yang harus pinjam uang
untuk beli obat. Tapi suara mereka justru tenggelam oleh sistem pusat yang lebih
percaya pada data daripada realita.

Kalau begitu, jangan heran kalau ada warga yang masih tinggal di rumah papan bolong,
tapi dinilai “mampu” hanya karena punya HP Android murah. Karena faktanya, yang
dilihat bukan kondisi hidupnya—melainkan angka-angka hasil padanan data yang belum
tentu relevan. Memang bagus jika data diperbaiki. Tapi, dalam situasi sulit seperti sekarang,
evaluasi semestinya dilakukan dari bawah ke atas, bukan sebaliknya. Karena yang tahu
siapa miskin bukan kementerian, tapi tetangga.
(Foto.ist)



https://www.instagram.com/koranprabowo.id_/profilecard/?igsh=MzB4N3g3NHJkOG15
GIBRAN – DEDI MULYADI2029: https://www.facebook.com/groups/1352370806000370
KORANPRABOWO FB : https://www.facebook.com/profile.php?id=61557277215737




