Koranprabowo.id, KepalaDaerah :

Usai pemasangan spanduk ‘peringatan’ tentang gajah liar di kec. Air sugihan, Kab.OKI, Sumsel (11/7) lalu. Kami merasakan ada ‘semangat baru’ dari warga desa sekaligus ucapan terima-kasih karena kami selaku relawan sangat perduli dengan kasus gajah-gajah liar yang membuat gaduh warga sejak 10 tahun belakangan ini. Apalagi telah memakan korban lebih dari 11 warga setempat.

Seorang warga initial DS pun mengatakan bahwa tahun 2020 lalu ada anggota TNI yang tewas akibat diterjang gajah liar ini disana, peristiwa ini terjadi saat korban, yang merupakan Babinsa, mencoba menghalau gajah yang masuk ke pemukiman warga. 

Kejadian ini terjadi pada Rabu pagi, 4 Maret 2020, di Dusun Belanti, Desa Banyubiru, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan.  Setelah terpisah dari rombongannya, seekor gajah liar masuk ke pemukiman, warga pun serentak menghalaunya. Bahkan kemudian dibantu oleh anggota TNI, Sertu Iskandar dan Serma Sugiarto – keduanya adalah anggota Babinsa, menghalau gajah tersebut dengan segala cara. 

Saat mencoba menghalau, gajah tersebut tiba-tiba berbalik arah dan menyerang Sertu Iskandar. Korban terinjak oleh gajah tersebut dan meninggal dunia di lokasi kejadian. Adapun Sugiarto berhasil lolos bersama warga lainnya. Demikian kisahnya.

Masihkah kita harus menunggu lagi korban – korban selanjutnya?

Warga lain mengatakan semua ini ‘gegara adanya perluasan perkebunan akasia dan alih fungsi lahan lainnya milik sehingga mengurangi habitat alami gajah, yang memaksa gajah gajah liar lebih dari 105 ini mencari makan di kebun dan pemukiman warga. 

Warga juga mengatakan jika kec. Air sugihan ini memang merupakan ‘rumahnya’ gajah gajah liar terbesar di Sumatera Selatan. Maka warga pun ‘menghormati’ mereka karena pernah berjasa saat di era kerajaan Sriwijaya lalu. Segala upaya pernah dilakukan untuk memindahkan ke lokasi lain, namun mereka kembali kesana.

“Ya seperti itu, dari data yang saya himpun gajah – gajah liar itu jumlahnya memang lebih dari 100 ekor dan mereka tersebar di Cengal – 27 ekor, Penyambungan – 40 ekor, Sebokor – 11 ekor, Jalur 23 – 39 ekor, dan Lebong Hitam – 31 ekor. Kalau tidak salah, wilyah ini seharusnya dibawah pengawasan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem/Kemenhut dan Resort Konservasi Wilayah XV Pusat Latihan Gajah [PLG] Padang Sugihan“, kata PimRed melalui seluler (15/7) lalu.

Data dan dokumen tolong dilengkapi biar nanti dibawa ke presiden Prabowo melalui Kantor Staf Presiden dan Wapres Gibran, tutup PimRed.

(Foto.ist)

@koranjokowi.com

@koranjokowi

GIBRAN – DEDI MULYADI2029:https://www.facebook.com/groups/1352370806000370

HOME

https://koranjokowi.com/embed/#?secret=xnknds79Pf#?secret=EdeFmiZ81V

@.koranprabowo.id

@koranprabowo.id

KORANPRABOWO FB :https://www.facebook.com/profile.php?id=61557277215737

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?