Koranprabowo.id, HotNews :
[Teman teman relawan dimana saja berada sejak edisi ini maka kami merasa penting untuk menyampaikan banyak hal terkait konsep/program kerja relawan Koranprabowo.id, BBRP – Barisan Benteng Raya Pajajaran, AMPDM – Aliansi Masyarakat Perduli Desa Mandiri, JWI – Jajaran Wartawan Indonesia & Busernet.co.id dengan nama “SOEKABOEMI AGENG” Thn.2026 – 2029, semoga bermanfaat dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, Tuhan YME, Aamiin YRA)

Tahun 2026, tepatnya tgl. 10 September 2026 usia Kabupaten Sukabumi menjadi 156 tahun. Kalau pun banyak sumber mengatakan keberadaannya jauh sebelum abad ke-9 Masehi, ini dikaitkan dengan ditemukannya Prasasti Sanghyang Tapak di daerah Cibadak yang cukup menjelaskan bahwa kawasan sekitar Kabupaten Sukabumi saat ini setidaknya sudah dihuni oleh para leluhurnya sejak lama. Bahkan di prasastinya itu ada menyebutkan ‘Larangan’ dari penguasa Kerajaan Sunda kepada rakyatnya agar tidak menangkap ikan dan merusak air.

Pada abad ke-9 Masehi, yang kita tahu mayoritas tanah pasundan dibawah kuasa Kerajaan Sunda / Pasundan, yang merupakan penerus dari Kerajaan Tarumanagara. Dimana dipimpin oleh beberapa raja sunda, yaitu : Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819–891 M), Prabu Darmaraksa (891–895 M)
dan Windu Sakti Prabu Dewageng (895–913 M). Sebelumnya, pada akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9, ada juga Prabu Gili Wesi (785–795 M) dan Pucuk Bumi Darmeswara (795–819 M) yang semuanya memerintah dengan adil, bijaksana dan mengedepankan kemakmuran rakyatnya baik yang digunung maupun sekitar pantai.
Pada masa Pemerintahan kolonial Hindia Belanda sekitar thn.1700 – 1776, Kabupaten Sukabumi saat itu merupakan bagian dari Karesidenan Priangan / Preanger (Residentie Preanger Regentschappen) dan pada tahun 1776 Bupati Cianjur keenam Raden Noh Wiratanudatar VI membentuk sebuah kepatihan bernama Kepatihan Tjikole yang terdiri dari beberapa distrik yaitu : Distrik Goenoengparang, distrik Tjimahi, distrik Tjiheulang, distrik Tjitjoeroeg, distrik Djampangtengah, dan distrik Djampangkoelon dengan pusat pemerintahan di Tjikole (sekarang bagian dari Kota Sukabumi).

Pada tanggal 13 Januari 1815, Kepatihan Tjikole berganti nama menjadi “Kepatihan Soekaboemi”. Nama Soekabumi diusulkan oleh Dr. Andries de Wilde, seorang dokter bedah pemilik perkebunan teh yang mempunyai usaha perkebunan kopi dan teh di daerah Soekaboemi. Asal nama “Soekaboemi” berasal dari Bahasa Sanskerta soeka, “kesenangan, kebahagiaan, kesukaan” dan bhoemi, “bumi, tanah”. Jadi “Soekabumi” memiliki arti “tanah yang disukai”.

Secara geografis luas wilayah Kabupaten Sukabumi sekitar 11,72% dari total luas wilayah Propinsi Jawa Barat, atau sekitar 4.164,15 km2.
Pemerintahan Kabupaten Sukabumi saat ini terbagi menjadi 47 kecamatan , 381 desa dan 5 kelurahan. Berdasarkan kategori wilayah, sebanyak 120 desa kategori desa perkotaan dan sisanya yaitu 266 desa merupakan kategori desa perdesaan.
Pada tahun 2025, jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi sebanyak 2.828.024 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1.433.378 jiwa dan 1.394.646 jiwa. Penduduk perempuan dan tersisa 6,4% penduduk miskinnya. Jumlah pemeluk agama Islam – 2.7 juta jiwa, Kristen – 6.050, Katolik – 1887, Hindu – 58, Budha – 720, Lainnya – 20.
BERSAMBUNG
(Foto.ist)

