Koranprabowo.id, Unik :
Kerajaan Rejang, yang sering dikaitkan dengan tradisi Pat Petulai (Empat Pintu Besar) di Tanah Lebong, Bengkulu, adalah kerajaan tertua di Sumatera yang didirikan oleh 4 pilar komunitas adat (Ajai). Kerajaan ini terkenal dengan peradaban aslinya di pedalaman, sistem pemerintahannya yang maju, dan aksara Kaganga.

Dalam beberapa sumber disampaikan Suku Rejang diyakini berasal dari keturunan Rhe Jang Hyang yang menetap di wilayah Bengkulu sejak ribuan tahun lalu, dengan peradaban yang berpusat di wilayah pedalaman dan dikelilingi Bukit Barisan.

Kerajaan ini terbentuk dari persekutuan empat Ajai (pemimpin kelompok) yang memerintah di empat daerah: Ajai Bitang (Pelabai), Ajai Begelan Mato (Kuteui Bolek Tebo), Ajai Siang (Siang Lakat), dan Ajai Tiea Keteko (Bandar Agung). Pusat pemerintahan kuno berada di daerah Lebong, yang dikenal sebagai Renah Sekalawi (wilayah yang subur).
Selain para Ajai, kerajaan ini kemudian mengenal pemimpin bergelar Biku (pendeta/pemimpin sakti), di antaranya Biku Sepanjang Jiwo, Biku Bembo, Biku Bejenggo, dan Biku Bermano, yang datang dan diangkat menjadi raja karena kebijaksanaannya. Kerajaan ini sangat menjunjung tinggi adat istiadat, hukum, dan norma agama dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Rejang di pedalaman awalnya cukup terisolasi, namun mulai berinteraksi dengan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1860, lebih lambat dibandingkan wilayah pesisir Bengkulu yang sudah dijajah sejak 1825.

Hubungan dengan Kerajaan Lain: Tradisi lisan menyebutkan kedatangan perwakilan dari kerajaan di Jawa (Majapahit) yang kemudian berbaur dan memimpin di Tanah Rejang. Beberapa catatan juga mengaitkan pengaruh pemerintahan dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra lainnya sebelum akhirnya melemah akibat intervensi kolonial. sman2rejanglebong.sch.id
Kerajaan ini menjadi cikal bakal budaya dan kebudayaan suku Rejang yang kini mendiami Kabupaten Rejang Lebong dan wilayah sekitarnya di Provinsi Bengkulu.
Semoga bermanfaat.
(Red-01/Foto.ist)
