Koranprabowo.id, Daerah :
Teman teman relawan dimana saja berada, musibah longsornya puluhan ton sampah di TPA Bantargebang, Kab. Bekasi (8/3) yang menewaskan 7 orang kiranya menjadi warning untuk kita semua khususnya selaku relawan untuk melakukan re-check TPA – nya masing masing didaerah. Seperti itulah pesan PimRed pagi ini (12/3) melalui seluler. “Kali ini kita sumbang info ke publik dengan mengangkat kasus sampah di kab. Bogor lae”, kata PimRed.
“Saya harus lihat TPA Galuga, pak?”, tanya saya ke PimRed . “Tidak lae, kita punya cara sendiri untuk mengingatkannya”, jawab PimRed.
Kami pun diskusi melalui seluler kalau pun terganggu sinyal karena hujan mulai datang, caranya versi relawan adalah mengangkat dalam tulisan dan mempublikasikan jika produksi sampah kab. Bogor itu sekitar 2700 ton/hari namun hanya mampu terangkat sekitar 1500-an ton/hari ke TPA Galuga. Sisanya?, dibuang ke sungai?”

Oh ya, TPA Galuga terletak di Kec. Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan luas lebih dari 38 hektar sejak tahun 2011 lalu, keberadaannya pun masih meninggalkan ceritera ‘kelam hingga saat ini . Masyarakat sangat terganggu dengan baunya sampah dan rawan penyakit ISPA. “Dan aksi masa warga sekitar masih terjadi hingga 2 Maret lalu dimana warga memblokade jalan sehingga antrian truk sampah pun tidak masuk TPA, mau sampai kapan”, tanya PimRed, kami diam.
PimRed juga mengatakan bahwa saat ini kabupaten Bogor mempunyai 2 masalah besar tentang sampah,
1.Untuk mengangkut 2700-an ton sampah diperlukan 900 unit, saat ini baru ada 200 unit berarti sisa 700 unit. Diberbagai sumber disebut harga unit truk sampai muatan 10 meter kubik antara Rp. 400-600 juta/unit. Maka untuk membeli 700 unit lagi diperlukan biaya sekitar Rp. 280 miliar saja, bukankah APBD nya sekitar Rp. 11 triliun. Aman itu. Asal jangan dikorupsi.
2.Komunikasi dengan warga sekitar TPA Cigulang harus dilakukan dengan baik, sehingga tidak terjadi lagi aksi aksi masa seperti itu, karena jika didiammkan akan menjadi ‘bom waktu’, mampu kan?
(Foto.ist)

