Koranprabowo.id, HotNews :
Bencana tanah longsor terjadi di lereng Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, hari ini (30/1) telah berjalan hingga sepekan. Recovery dilakukan semua pihak termasuk para relawan yang tak disebut media, tak apalah. Karena mereka tetap tertulis dalam tinta emas. Alhamdulillah, Puji Tuhan hingga hari ini 60 Kantong Jenazah telah dievakuasi,namun 20 korban masih Hilang.

Gunung Burangrang terletak di wilayah Lembang dan Cisarua, dekat dengan Gunung Tangkuban Parahu, dengan ketinggian sekitar 2.050 mdpl yang dikenal menawarkan pemandangan indah serta jalur pendakian yang populer, jaraknya sekitar 4,6 kilo meter ke lokasi bencana.

Gunung ini juga merupakan sisa dari letusan Gunung Sunda purba di zaman prasejarah atau lebih dari 105.000 tahun lalu. Dalam kisah legenda Sangkuriang, Gunung Burangrang tercipta dari ranting (rangrang) serta daun-daun pohon besar yang digunakan Sangkuriang untuk membuat perahu. Ranting dan daun ini ditumpukkan di sebelah barat. Gunung ini ‘seangkatan’ dengan Gunung Tangkuban Perahu , Gunung Manglayang, dan Bukit Tunggul. Puncak Gunung Burangrang dimiliki oleh 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat.

“Orang orang tua kita meyakini bahwa Gunung Burangrang pun adalah satu tempat , sebagaimana Gunung Salak, Gede, Ciremai, Padang, Pangrango, Halimun, dsb yang menjadi tempat pertapaan atau tempat yang pernah disinggahi Prabu Siliwangi. Juga merupakan garis pertahanan kerajaan Pajajaran”, kata PimRed setelah menerima foto-foto aksi sosial di Lokasi bencana Cisarua.
Masih kata PimRed, beberapa pendaki yang kerap kesana sudah tidak aneh jika sering mendengar raungan suara harimau yang ‘tidak berwujud’, dan mempunyai banyak larangan jika kesana salah satunya dilarang mengucapkan, ‘nyasar’ atau ‘tersesat’, karena dianggap bisa mendatangkan nasib buruk selama berada di gunung. Bahkan diantaranya ada juga yang mendengar bunyi gamelan seperti di gunung Merapi, Gede, Salak dsb. Termasuk ada yang pernah bertemu mahluk dalam kegelapan malam serupa sosok ‘Semar.

Atasnama Koranprabowo kami haturkan ucapan terimakasih kepada PAGUYUBAN SRIBADUGA, yang telah hadir kemarin : Kang Ajay – Ketua, P Memet, B. Yeti, P. Hilmi, Kang Rizal, dan Teh Nanda. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan semua, Aamiin yra.
….
Wahai Prabu,
kalau pun kau di puncak istana yang menjulang tinggi
kami tahu kau pun ikut bersedih
karena tanah kita bergeser dini hari.
Menelan nyawa, rumah, dan kebun yang sebelumnya ceria.
Ratu bumi seolah murka, entah mengapa?
Mengoyak tanah yang subur tanpa tanya
Kami tiada daya dalam kegelapan
Lumpur itu seolah monster mengerikan
bumi menjadikan kami lawan
Wahai Prabu bantu kami temukan
mereka yang masih didalam

Wahai Prabu, jangan engkau ikut bersedih
kalau pun ini memang pedih
Bencana Cisarua jangan lagi ada
bantu kami Wahai Prabu sampaikan padaNya
Kepada illahi, kepada bumi
jika kami ada khilaf maafkan kami
maafkan kami, maafkan kami.
Wahai Prabu, bantu kami
sampaikan sepenuh hati
Wahai Prabu, bantu kami
sampaikan kepadaNya sepenuh hati

Kepada illahi, kepada bumi.
Kepada illahi, kepada bumi.
(Red-01/Anton, R/Foto.ist)

