Koranprabowo.id, Unik :
Potensi pariwisata di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, cukup banyak. Kalau pun realisasi pajak dari sektor Pariwisatanya masih belum ‘ngangkat maka ini menjadi pekerjaan rumah semua di tahun 2025 ini.
Karena yang masih menjadi idola di Kab. Bangka barat ini adalah pajak sektor Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang selalu mencapai diatas 70%, lihat saja di thn.2024 mencapai 91,99 % sedangkan pariwisata masih sekitar 40%.
Perlu ide lain untuk ini, memang benar di Kab. Bangka Barat, di era modern ini tidak mengenal lagi jenis delman , bendi, dokar, andong, atau sado sebagaimana daerah lain, satu kendaraan tradisional yang ditarik kuda. Saya ingat para leluhur Prov.Bangbel ini diwaktu lalu pernah punya delman dengan nama’ Pownis, nah mengapa tidak kita mulai saja memperkenalkan kembali ‘Delman atau Pownis ini kab.Bangka barat sebagai bagian dari promosi pariwisata juga pelestarian budayanya di thn.2025-2029?

Keberadaan Delman di Indonesia dimulai oleh Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur pada masa Hindia Belanda. Pada kala itu, orang Belanda yang menguasai Batavia menyebut kendaraan ini dengan nama dos-à-dos, yang berarti punggung pada punggung, karena posisi si kusir yang memunggungi penumpangnya. Istilah dos-à-dos ini sendiri kemudian disingkat menjadi ‘sado’ oleh penduduk pribumi Batavia. Diketahui, Deeleman yang lahir di Amsterdam, 11 Desember 1823 ini merupakan seorang ahli irigasi yang memiliki sebuah bengkel besi di pesisir Batavia.
Deeleman datang ke Indonesia bersama Neth-Ind waterways service pada tahun 1845 sebagai seorang teknisi. Kedatangannya ke Tanah Air pertama kali bukanlah ke Batavia, melainkan ke Surabaya. Terhitung sejak kedatangannya ke Indonesia, Deeleman menghabiskan waktu tiga tahun menetap di Surabaya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hengkang ke Batavia pada tahun 1848.

Sumber lain mengatakan diawali dengan delman kemudian seiring waktu sejak tahun 1960-an munculah ‘Pownis rasa roda 4 angkutan umum dengan bodi dari kayu terutama untuk rute Pangkalpinang dan Sungailiat. Nama Pownis sendiri berasal dari singkatan ‘Perusahaan Oto Warga Negara Indonesia Sungailiat’. Dan Oto merupakan sebutan untuk mobil dalam bahasa Bangka Belitung

Hingga saat ini, diketahui hanya terdapat 2 unit mobil Pownis saja yang masih beroperasi. Kedua mobil tersebut berada di Museum Timah Indonesia yang terletak di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung. Tapi saya tidak paham bagaimana nasib ‘Pownis’ berupa delman itu?
(Foto.ist)



KORANJOKOWI 2019-2024: https://www.youtube.com/@koranjokowiofficial55
KORANPRABOWO FB :https://www.facebook.com/profile.php?id=61557277215737
https://www.facebook.com/share/1ApupGtMtL




KORANJOKOWI 2025 – 2029:
https://youtube.com/watch?v=1ISIHs_U3y8%3Ffeature%3Doembed
KORAN PRABOWO 2025 – 2029:
https://www.youtube.com/@KORANPRABOWO-h7c

