Koranprabowo.id, Politik :
Nama Ratu Ageng Tegalrejo mungkin tak sering terdengar di buku sejarah sekolah. Namun
tanpa sosok perempuan ini, kisah besar Pangeran Diponegoro mungkin tak akan pernah
lahir sebagaimana yang kita kenal. Di balik tembok keraton Yogyakarta dan sunyi
pedesaan Tegalrejo, ia menanamkan benih perlawanan, membentuk karakter, dan menyalakanapi yang kelak membakar kolonialisme di Tanah Jawa.

Ratu Ageng adalah istri dari Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta.
Namun berbeda dari gambaran umum tentang permaisuri, Ratu Ageng justru memilih hidup
sederhana. Setelah suaminya wafat, ia meninggalkan istana dan menetap di Tegalrejo,
desa yang kelak menjadi simbol keteguhan batin dan semangat rakyat. Langkah itu bukan
sekadar mundur dari kekuasaan, tetapi bentuk perlawanan diam terhadap politik kolonialyang mulai merasuki jantung keraton.

Di Tegalrejo, Ratu Ageng mendirikan pesantren kecil dan membuka ruang belajar bagi
siapa saja yang ingin memperdalam ilmu agama. Ia mengajarkan ajaran Islam yang
membumi—tentang keadilan, kesederhanaan, dan harga diri sebagai manusia merdeka. Di
antara santrinya ada cucu kesayangannya, Raden Mas Ontowiryo, yang kelak menjadi
Pangeran Diponegoro. Dari perempuan inilah Diponegoro belajar tentang spiritualitas,
kepemimpinan, dan keberanian menentang ketidakadilan.
Lebih dari sekadar guru, Ratu Ageng adalah sumber moral dan batin bagi generasi
penerusnya. Ia menanamkan keyakinan bahwa kekuasaan tanpa kebenaran adalah kesesatan,
dan tunduk pada penjajah adalah bentuk kehinaan. Di tengah masyarakat yang masih
meminggirkan peran perempuan, Ratu Ageng menunjukkan bahwa pengaruh tak selalu lahir
dari takhta, melainkan dari keteguhan jiwa.

Ketika pengaruh Belanda semakin kuat di Yogyakarta, Tegalrejo justru menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang kecewa pada arah istana. Ratu Ageng menjadi simbol, perlawanan sunyi—tidak dengan senjata, tapi dengan pendidikan dan teladan. Dari sanalah muncul semangat yang kelak meledak menjadi Perang Jawa (1825–1830), salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah kolonial Hindia Belanda. Namun sejarah tidak selalu adil terhadap perempuan.

Nama Ratu Ageng Tegalrejo jarang disebut dalam catatan resmi. Ia tak pernah diabadikan sebagai pahlawan, tak banyak wajahnya terpajang di buku pelajaran. Padahal, tanpa ajarannya, karakter Diponegoro mungkin tak akan seteguh itu menghadapi ujian sejarah. Ia adalah ibu spiritual dari
perlawanan bangsa — sosok yang bekerja dalam senyap namun meninggalkan jejak abadi.
Kini, makamnya di Tegalrejo berdiri tenang di antara pepohonan dan sawah. Di tempat
itu, sejarah berbisik pelan bahwa perjuangan tak selalu lahir dari medan perang.
Kadang, ia tumbuh dari doa seorang nenek, dari kesederhanaan yang dijaga, dan dari
keteguhan yang tak goyah oleh waktu.

Ratu Ageng Tegalrejo mungkin tidak memimpin pasukan, tetapi dialah yang melahirkan semangat juang terbesar dalam sejarah Jawa. Seorang perempuan yang membuktikan: kekuatan sejati tidak selalu bersuara keras — kadang, ia hadir dalam diam yang penuh makna.

(Foto.ist)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Anda suka dengan berita ini ?