Koranprabowo.id, Unik :
Saya & leluhur adalah warga Koja, Jakarta utara. Saya belum paham bagaimana asal muasal ada nama ‘Bendungan koja’ yang lokasinya di Jatiasih, Bekasi. Yang katanya tidak terawat, karena sampah, terutama sampah bambu dan kayu, yang terbawa arus sungai dan menyulitkan aliran air. Maka wajar air yang seharusnya mampu mengalihkan air dari Kali Cikeas ke Kanal Kali Baru itu tidak berfungsi baik bahkan warga sekitarnya kerap terimbas banjir.
Padahal nama Koja itu sangat sakral dan legendaris jauh sebelum tahun 1600-an dimana saat itu banyak pedagang asal Khoja, India. Mereka puluhan tahun tinggal di sini sampai memiliki anak dan keturunan, serta komunitas. Koja juga identik dengan Kampung Tugu, komunitas keturunan Portugis Mardijkers yang telah dibebaskan dari tawanan perang pemerintah Hindia Belanda. Mereka berasal dari Maluku, Ambon, Ternate, dan sekitarnya dengan membawa budaya, bahasa, dan agama Kristen dari Portugis. Mereka juga dikenal sebagai ahli musik dan tari. Maka kemudian muncul Gereja Tugu dan Keroncong Tugu.

Sebagian sumber mengatakan bahwa Koja berasal dari nama pohon Koja Koja serupa pohon Ambon yang tumbuh liar dimasanya, saya belum paham apa khasiatnya , untuk sayur atau obat. Yang jelas, Koja kini merupakan pusat industri dan perdagangan di Jakarta Utara. Bagian timur dari Pelabuhan Tanjung Priok termasuk dalam kecamatan ini, yang terdiri dari Terminal Kontainer I, Terminal Kontainer III, dan Terminal Kontainer Koja

Termasuk banjir besar yang terjadi Maret-Mei 2025 lalu, dimana ratusan rumah terendam air hingga berhari-hari lamanya. Nama ‘Koja’ pun menjadi cibiran, “Gara gara Bendungan Koja !”, tuding warga.

Maka wajar jika netizen ‘Koja- Jakarta utara’ membuat tandingan, di media sosial kemudian dipublikasikan bagaimana Bendungan Koja penuh sesak oleh tumpukan sampah bahkan jumlahnya hingga ‘ton-an’, sehingga aliran air Kali Cikeas pun tidak bergerak alias terhambat.

Dibuktikan lagi, seluruh sampah tersebut mengalir saat banjir dan menyebarkannya dipemukiman warga setempat. Lalu apakah masih menyalahkan Bendungan Koja?
“Saya pernah tinggal di Jatiasih lebih dari 3 tahun jika hujan memang pasti banjir. Diperumahan pun kadar besinya keras, idealnya adalah 1 mg/L untuk air bersih dan 0,3 mg/L untuk air minum. Mak, kalau saya jadi KDM atau Bupati sekitar, baiknya bendungan yang dibangun sekitar thn.2014-2015 dengan anggaran lebih Rp. 5 miliar itu ditinjau-ulang. Sekaligus di re-check semua anggaran terkait ini, di-audit. Contoh saja bagaimana saat Gubernur Jokowi membuat beres semua sungai di Jakarta dan waduk disana, tidak pakai berisik, kerja saja, semua beres”, kata PimRed saat ditanayakan soal ini (16/11)
(Foto.ist)
