Koranprabowo.id, Jadoel :
Saya memang bukan orang Jawa barat (Sunda) tapi asli Maluku, namun ceritera dibawah ini juga ada kaitannya dengan Suriname, Amerika Selatan. Yang identik dengan Belanda. Dan diwaktu yang bersamaan orang-orang Maluku banyak yang bekerja dengan Belanda yang mungkin juga diantaranya ada di Suriname.

Nah saya ceritera hal lain kalau pun ini ada kaitannya dengan Belanda dan Suriname. Semoga bermanfaat. Tahun 1920-an, ribuan orang Jawa berangkat dari Tanjung Priok menuju negeri seberang, Suriname, koloni kecil Belanda di Amerika Selatan. Mereka dijanjikan kontrak kerja 5 tahun, dengan iming-iming upah dan kesempatan kembali ke tanah Jawa.
Di antara mereka, ada seorang pemuda Iding Soemita, lahir di Cikatomas, Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 1908. Ia berangkat ke Suriname sekitar usia 17 tahun, penuh harapan bisa mencari penghidupan dan suatu hari kembali pulang. Perjalanan laut panjang itu memakan waktu lebih dari 40 hari, dengan kondisi kapal yang penuh sesak, makanan minim, udara lembab, dan rindu tanah air yang kian menyesakkan dada.

Setibanya di Suriname, Iding ditempatkan di perkebunan gula Marienburg, Commewijne. Ia bekerja sebagai oppasser (asisten perawat), bertugas merawat buruh kontrak yang sakit karena malaria, disentri, dan luka kerja. Dari situlah ia menyaksikan penderitaan yang begitu kejam : jam kerja panjang, upah sangat rendah, dan perlakuan kasar dari mandor serta pengawas Belanda.
Yang paling menyakitkan bagi Iding adalah ketika buruh meninggal : mereka sering dikubur begitu saja, tanpa kain kafan, tanpa doa, tanpa penghormatan. Dalam hati Iding bersumpah : “Saudara-saudara saya tidak boleh diperlakukan tanpa martabat. Saya harus berbuat sesuatu.”

Digerakkan oleh rasa kemanusiaan dan akar budaya gotong royong Jawa-Sunda, Iding menggagas kas pemakaman. Ia mengajak kawan-kawannya menyisihkan sedikit upah. Tujuannya sederhana: bila ada yang meninggal, mereka bisa dimakamkan secara layak, dengan kain kafan, doa, dan penghormatan terakhir.
Pasca Perang Dunia II, angin politik bertiup ke Suriname. Iding melihat peluang untuk memperjuangkan nasib kaumnya secara resmi. Tahun 1946, ia mendirikan organisasi Persatoean Indonesia (PI). Tiga tahun kemudian, pada 1949, PI berkembang menjadi Kaum Tani Persatoean Indonesia (KTPI), partai politik kaum Jawa di Suriname.

Pada pemilu pertama Suriname tahun 1949, KTPI berhasil meraih dua kursi di parlemen kolonial. Salah satunya ditempati oleh Iding Soemita, si anak desa Cikatomas yang dulu datang sebagai kuli kontrak. Sejak saat itu, suara kaum Jawa-Sunda resmi bergema di panggung politik Suriname.
Tahun 1972, ia pensiun dari politik dan menyerahkan kepemimpinan KTPI kepada putranya, Willy Soemita, yang kelak juga menjadi menteri di Suriname. Iding wafat pada 18 November 2001, di usia 93 tahun. Ribuan keturunan Jawa-Sunda hadir mengantarnya, dengan doa dan gamelan sebagai penghormatan terakhir.
(Foto.ist)
