Koranprabowo.id, Jadoel :
Pada masa Pemerintahan Belanda, Kabupaten Langkat masih berstatus keresidenan dan kesultanan (kerajaan) dengan pimpinan pemerintahan yang disebut Residen dan berkedudukan di Binjai dengan Residennya Morry Agesten. Residen mempunyai wewenang mendampingi Sultan Langkat di bidang orang-orang asing saja sedangkan bagi orang-orang asli (pribumi) berada di tangan pemerintahan kesultanan Langkat. Kesultanan Langkat salah satunya dijabat oleh :

Sultan Haji Musa Almahadamsyah Thn.1865-1892
Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah, atau lebih dikenal sebagai Tengku Ngah, adalah seorang Sultan Langkat yang memerintah antara tahun 1840 – 1893. Ia dikenal karena peran pentingnya dalam perkembangan Kesultanan Langkat, terutama dalam bidang ekonomi dan pembangunan.
Pada masa pemerintahannya, seorang administrator Belanda bernama Aeilko Zijlker Yohanes Groninger menemukan ladang minyak di Telaga Said, Pangkalan Brandan. Penemuan ini memberikan kekayaan besar bagi Kesultanan Langkat melalui royalti hasil produksi minyak.

Ladang minyak Telaga Said di Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara, adalah salah satu ladang minyak tertua di Indonesia. Sumur minyak pertama, yang dinamakan Telaga Tunggal I atau Telaga Said, ditemukan secara tidak sengaja pada tanggal 15 Juni 1885 oleh Aeilko Jans Zijker. Sumur ini terletak sekitar 12,5 kilometer dari Pangkalan Brandan. Dengan ditemukannya sumur ini, dimulailah sejarah perminyakan di Indonesia.

Berjarak sekitar 12,5 kilometer dari Pangkalan Brandan, di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Sumur Telaga Tunggal I berhenti beroperasi pada tahun 1934 karena minyaknya habis.
“Kalau pun dianggap minyaknya sudah habis namun pasca proklamasi thn.1945, para pejuang membakar habis lokasi itu agar tidak jatuh ketangan Belanda, itu dikenal dengan aksi heroik ‘ Brandan Bumi Hangus, mirip dengan Bandung Lautan Api. Ini terjadi yang pada 13 Agustus 1947. Maka setiap tanggal 13 Agustus, masyarakat Kota Pangkalan Brandan selalu mengadakan pawai untuk memperingati peristiwa bersejarah itu”, kata PimRed

Aksi heroik ini dilakukan untuk mencegah kehadiran Belanda yang sudah sejak lama mengincarnya. Dan salah satu taktik perang rakyat semesta, perang gerilya, adalah pembumi-hangusan
(Foto.ist)



https://www.instagram.com/koranprabowo.id_/profilecard/?igsh=MzB4N3g3NHJkOG15
GIBRAN – DEDI MULYADI2029:https://www.facebook.com/groups/1352370806000370
KORANPRABOWO FB :https://www.facebook.com/profile.php?id=61557277215737





