Koranprabowo.id, KepalaDaerah :
Sampai Juli tahun 2025, konflik agraria di Sumatera Utara masih sekitar 33 kasus terkait lebih dari 34.090 hektar luas lahannya, dari jumlah tersebut, 20 kasus terjadi di wilayah perkebunan milik PTPN, ada juga dengan pihak lain misalnya PT. AT – Langkat, dsb.
Konflik agraria di Sumatera Utara menduduki peringkat tertinggi secara nasional berdasarkan jumlah kasus dan luas lahan yang terdampak. Dan semua pihak menikmati itu ibarat sebuah prestasi nasional ?

Selain ada 33 kasus juga terkait korban terdampak lebih dari 11.148 KK di 25 desa di berbagai kabupaten. Adapun faktor utama penyebab konflik agraria ini adalah adanya klaim tumpang tindih antara masyarakat, perusahaan, dan hak-hak masyarakat adat. Selain itu, ketidak-jelasan status setelah berakhirnya masa HGU (hak guna usaha) pun lumayan dominan.
“Yang repot selain masyarakat sudah tertindas juga banyak yang tertipu oleh oknum yang katanya mampu menyelesaikan masalah dengan kutipan – kutipan yang nyatanya sampai saat ini zero, bahkan warga juga harus menghadapi teror mafia tanah dan orang2 bayaran mereka, sudah banayk itu korbannya yang luka, hilang dan tewas dipihak warga”, kata PimRed.

Teman teman relawan dimana saja berada,
Tahun 2023 lalu, saat menjabat Walikota Medan – Bobby terkenal dengan tukang ‘gebuk mafia tanah’, maka wajar jika saat itu mampu men-sertifikatkan 400.000 bidang tanah atau 78% dari target 600.000 ribu bidang tanah.


Jika melihat 17 program Bobby – Surya diatas, memang tidak terlihat program yang berkaitan dengan penyelesaian konflik Agraria, namun bolehlah kita ambil kesimpulan hal ini terkait program no.17 yaitu ‘Terciptanya kehidupan Yang lebih Aman dan Tertib’. Sebagaimana harapan pemilih Bobby- Surya saat Pilgub Sumut thn.2024 lalu yang mencapai 3,6 juta suara (64,4%) , termasuk penyelesaian konflik agraria di Sumatera utara.
Di tahun 2025 – 2029 , Bobby harus lebih berani dari saat menjabat sebagai walikota, Bobby harus menjadi pelopor bersama jajarannya menyelesaikan ke-33 kasus agraria itu. “Rakyat, relawan dan aktifis pasti mendukung , tapi kalau Bobby-nya ciut, semua akan payah. Karena selama ini Bobby belum melakukan langkah-langkah signifikan kecuali yang bersifat seremoni, Bobby harus mencontoh Jokowi saat sebagai Gubernur dan Presiden 2 periode. Sat set..”, tambah PimRed.
(Foto.ist)
