Koranprabowo.id, Jadoel :
Tanpa mengurangi rasa bangga kepada para pejuang dan pahlawan perempuan nasional kita, kali ini disela kesibukan kita sebagai panitia ‘Lomba Film Pendek Antar Santri Se-Jawa Barat Tahun.2025’, saya merasa perlu memperkenalkan 2 sosok perempuan tangguh, yaitu :
JOAN OF ARC , Perempuan cantik namun dingin ini lahir pada tahun 1412 di sebuah desa kecil bernama Domrémy di wilayah timur laut Prancis. Saat remaja , usia 17 tahun dia bergabung dengan pasukan kerajaan dan kemudian dipercaya memimpin Pertempuran Orléans pada tahun 1429, membawahi ribuan prajurit laki laki dan perempuan sebayanya demi kejayaan Raja Perancis saat itu – Charles VII ke Reims.
Namun tanggal 30 Mei 1431, dalam satu pertempuran lain melawan Inggris dan sekutunya, dia tertangkap kemudian dibakar hidup-hidup ditengah alun-alun.

Selama berabad-abad setelah kematiannya, Joan of Arc berkembang menjadi simbol patriotisme, kesetiaan, ia dianggap sebagai contoh paling murni dari keberanian perempuan melawan ketidakadilan, bahkan ketika seluruh dunia seolah mengejeknya. Kisah hidupnya terus menginspirasi generasi demi generasi, mengajarkan bahwa keberanian dan integritas perempuan pun mampu melampaui waktu, politik, dan nurul.

Yang ke-2 adalah MALAHAYATI (KEUMALAHAYATI) , lahir di Aceh tgl. 01 Januari 1550. Nama “Malahayati” kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab “Hayati” yang berarti kehidupan. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang mengutamakan pendidikan militer dan strategi perang.

Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Laksamana Zainal Abidin, suami Malahayati, gugur. Setelah ditinggal wafat oleh suaminya, Malahayati mengusulkan kepada Sultan Aceh untuk membentuk pasukan yang terdiri dari janda prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan. Permintaan itu dikabulkan. Ia diangkat sebagai pemimpin pasukan Inong Balee dengan pangkat laksamana. Malahayati adalah perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat ini. Hidupnya hanya bertempur dengan Belanda dan Portugis.
Laksamana Malahayati meninggal dunia pada pertempuran dengan Belanda tahun 1615. Makamnya terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Laksamana Malahayati mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2017 bersama dengan 3 orang lainnya.
Laksamana Malahayati hidup pada masa laki-laki memiliki dominasi yang kuat dalam seluruh aspek kehidupan. Namun ia berhasil mematahkan stigma tersebut dan menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran penting dalam perjuangan dan kepemimpinan, menembus batas-batas yang ada dan mengubah pandangan masyarakat tentang peran gender.
‘Semoga bermanfaat!
(Red-01/Foto.ist)
