Koranprabowo.id, Istana:
Sejak awal gaduh beredarnya nama-nama calon penerima penghargaan pemberian gelar pahlawan nasional , pastinya kami juga ikut ‘galau’ apakah nama tokoh dan ulama besar yang juga di-idolakan para relawan yaitu , Kiai Haji Abbas Djamil bin Abdul Djamil bin Muta’ad (Kyai Abbas Buntet) masuk nominasi atau tidak. Mengapa ?

1.Beliau adalah salah satu Panglima Perang dalam Peristiwa Pertempuran Surabaya tgl. 10 November 1945 di Surabaya dan Mustasyar/Dewan Penasehat PB Nahdlatul Ulama.
2.Beliau adalah putera sulung dari pasangan KH Abdul Jamil dan Nyai Qari’ah, Sedangkan kakeknya, KH Muta’ad, menantu pendiri Pesantren Buntet, Mbah Muqayyim. Yang juga seorang ‘mufti (orang yang diberi wewenang untuk menghasilkan fatwa dengan cara ijtihad) pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I dan Sultan Kanoman sekitar thn.1678-1777
3.Beliau dikenal juga sebagai sosok ulama yang sakti mandraguna saat Perang Surabaya, dengan hanya menggunakan sorban, tasbih, hingga kacang hijau yang dilemparkannya mampu menjatuhkan lebih dari 150 pesawat tempur Belanda dan sekutunya yang akan membombardir Kota Surabaya. Ada pula yang menyebut alu-alu untuk menumbuk padi beterbangan atas izin Allah SWT melalui perantara doa yang dibaca Kyai Abbas Buntet.

“Saya pernah melihat manusricpt di Musium Belanda bahwa disana ada sekitar 150 pesawat tempur yang meledak dan hilang tidak berbekas, saya meyakini itu karena tertembak butiran kacang hijay Kyai Abbas Buntet”, tambah Gus Faris
4.Kalau pun beliau pimpinan tertinggi Pondok Buntet Pesantren, beliau berbagi tugas dengan adik-adiknya untuk mengajar Santri yaitu H Anas, KH Ilyas, KH Akyas, KH Ahmad Zahid, KH Imam, KH Murtadho, dan para kiai lainnya. Sedangkan beliau sibuk menyusun strategi perang melawan Belanda dan sekutunya bersama KH Hasyim Asy’ari dan dan KH Wahab Hasbullah (Surabaya).

5.Beliau juga dikenal sebagai sebagai master ‘Silat Buntet, yang awalnya diciptakan untuk melawan pembegal-pembegal yang masuk pesantren di Jawa barat. Konon, hanya keluarga Kiai Abbas yang mengetahui satu jurus pamungkas tersebut.

6.Dari berbagai sumber disebutkan jika pertempuran Surabaya itu awalnya akan jatuh tgl. 8 November, namun KH.Hasyim Ashari tetap menolak, “Kita tunggu dulu Singa dari Jawa Barat. Dialah Kyai Abbas Buntet”, dan benar saja tgl.10 November 1945 adalah tonggak pertempuran itu
Kami pun ‘mengela nafas panjang, saat Presiden Prabowo (10/11) lalu di Istana Jakarta membacakan daftar 10 Pahlawan Nasional 2025 sebagaimana Keppres RI Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Yang diberikan kepada alm.K.H. Abdurrahman Wahid, alm. Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, almh.Marsinah, alm.Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja, almh.Hajjah Rahmah El Yunusiyyah, alm.Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, alm.Sultan Muhammad Salahuddin, alm. Syaikhona Muhammad Kholil, alm.Tuan Rondahaim Saragih, hingga alm.Sultan Zainal Abidin Syah.

Dan nama Kyai Abbas Buntet tidak ada didalamnya, QS. Al-Fatihah: 6-7, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”. Bukan untuk meNgomentari hal diatas, bagi kami Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dimana setiap kali bertambah amal seseorang, bertambah pula keimanannya. Inilah iman yang hakiki yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
Alfatihah untuk alm.Kyai Abbas Buntet ,
Alfatihah untuk alm. Mbah Muqoyyim Buntet
Alfatihah untuk alm.KH. Hasyim Abbas Buntet
Surgalah tempatnya, Aamiin YRA.
(Red-01/Foto.ist).
