Koranprabowo.id, Unik :
Kantor Walikota Jakarta selatan berada di Jl. Prapanca Raya No. 9, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta selatan. Wilayah ini dipimpin oleh seorang walikota dan memiliki 10 kecamatan serta 65 kelurahan dengan jumlah penduduk lebih dari 2,6 juta jiwa yang menyebar di Cilandak Timur, Jati Padang, Kebagusan, Pasar Minggu, Pejaten Barat, Pejaten Timur dan Ragunan. Wilayah ini terkenal dengan banyaknya pohon, taman kota, serta berbagai pusat perbelanjaan, bisnis (termasuk SCBD), dan tempat rekreasi.
Wali kota Jakarta Selatan saat ini dijabat oleh M. Anwar. Ia dilantik menjadi wali kota pada 7 Mei 2025, Adapun Wakil walkot dijabat Ali Murthado dan Mukhlisin, SE, MA sebagai Sekretaris Kota.

Melalui Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 1b3/1/1/66 wilayah administratif Pemerintah Kotapraja Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah kota termasuk Wilayah Administrasi Kotamadya Jakarta Selatan, maka hal ini juga tentunya membutuhkan lokasi perkantoran sendiri yang lebih memadai untuk menggantikan lokasi lamanya di Jl. Hang Lekir I No.5. Yang saat itu dikepalai oleh Wedana – H. Mochtar Zakaria, SH dengan Almarhum H. M. A. Adiwidjaya sebagai Asisten Wedana. Kemudian berpindah ke Jl. Radio V Kelurahan Kramat Pela dengan 1000 pegawai.

Kemudian tahun 1969 pindah kembali ke Jl. Trunojoyo dengan Jumlah pegawai sekitar 1.500 orang dan bertambah menjadi 2.286 orang pada bulan Juli 2002.Namun tidak ada data kapan dan mengapa alamat kantor Walkot menjadi di jalan Prapanca sampai saat ini.

Apapun nama jalan Prapanca pastinya berasal dari nama Empu Prapañca ( Dang Acarya Nadendra) seorang pujangga sastra Jawa yang hidup pada abad ke-14 pada zaman Majapahit dan kemungkinan selain pujangga juga merupakan mpu yang paling ternama pada masanya. Namanya dikenal di Indonesia modern sebagai penulis Kakawin Nāgarakṛtâgama (Naskah sastra Jawa kuno) yang termasyhur di era Raja Rājasanagara (Hayam Wuruk)..
Disebagian sumber disampaikan Mpu ini mendapat fitnah dari musuh politik Hayam Wuruk sehingga diusir dari istana dan mengasingkan diri disebuah desa kecil dan bertapa.

Naskah Kakawin Nagarakertagama ditulis bolak-balik diatas media lontar (Borassus flabellifer) dan terdiri atas 44 lembar (lempir). Setiap lembar memuat 4 (empat) baris tulisan beraksara Bali dan berbahasa Jawa Kuno dalam bentuk kakawin. Naskah diketahui memiliki ukuran panjang 48,4 cm dan lebar 3,5 cm. Pada sekitar tahun 1975, atas permintaan Pemerintah RI, naskah tersebut dari Belanda dikembalikan ke Indonesia dan kemudian disimpan di Perpustakaan Nasional RI.
Siapa sesungguhnya Prapanca sampai sekarang belum diketahui pasti, namun ia melukiskan dirinya sendiri dalam Negarakretagama Pupuh 96: Prapanca itu pra lima buah/ Cirinya: omongannya lucu/ Pipinya tembam, matanya ngeliyap/ Gelaknya ngakak. Terlalu kurangajar dia, tidak bisa ditiru/ Tolol, tidak mengikuti anjuran tutur/ Memerlukan pimpinan yang baik dalam tatwa/ Pantasnya ia dipukul pantatnya berulang kali.
‘Ahahaha.
(Foto.ist)
