Koranprabowo.id, Unik :
Dalam hidup pastinya kita kerap menemui fitnah karena sesuatu hal, tudingan yang menyakitkan. Dan saya yakini itu yang terjadi kepada seorang perempuan sakti, Calon Arang (Walu Nateng Dirah , Janda dari Dirah dan Matah Gede). Yang kemudian beredar melalui cerita rakyat atau Legenda, yang diceritakan dari mulut ke mulut secara turun-temurun.
Kata mereka, Calon Arang adalah seorang (maaf) Janda /rondo/ balu/walu yang hidup di era tahun 1019 – 1825, yang juga era Raja Klungkung Bali dan Raja Airlangga. Dia mempunyai putri cantik bernama Dyah Ayu Ratna Manggali, sebagai ibu pastinya dia berharap putrinya cepat berkeluarga. Karena kesal, dia menculik seorang gadis desa sekitar dan akan menumbalkannya kepada Dewi Durga. Dan meminta Durga memberikan bencana berupa banjir hingga banyak yang tewas.
Yang saya pahami sebagai orang bodoh, Dewi Durga itu adalah ibu dari banyak dewa Hindu, dewi pelindung, keibuan, yang menunggangi harimau dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Jadi bagaimana mungkin dia bersekutu dengan Calon Arang untuk membunuh warga?

Ceritera beredar setelah bencana itu muncul, Raja Airlangga marah dan meminta Empu Baradah – Penasehat kerajaan mencarikan jalan keluarnya. Baradah pun mengirimkan muridnya yang sakti bernama Empu Bahula atau Bawula untuk menikahi Dyah, singkat ceritera pernikahan pun berjalan dengan besar hingga tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.
Suatu hari Bahula mencuri buku Calon Arang yang berisi ilmu-ilmu sihir dan diserahkan kepada Baradah, Calon Arang marah dan mengajak tanding Baradah. Sayang dia kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang. Itu kata mereka, yang juga sulit ditemukan dalam literatur atau dokumen yang ada.
Saya juga pernah membaca versi lain yang mengatakan sesungguhnya Raja Airlangga pun menyukai Dyah, sehingga berniat memperistrinya namun karena ‘bisik-bisik tetangga’ akhirnya niat itu punah dengan terpaksa.

“Beliau dipanggil atau dikenal dengan nama Ratu Nating Girah” yang berarti ‘perempuan terkuat dari Desa Girah’.Yang kemudian lebih mudah disebut Gurah, ya sekitaran desa ini. Saya, para pendahulu dan jajaran pemerintah desa berkewajiban menjaga dan melestarikan situs yang telah menjadi cagar budaya. Dan kebetulan berada didesa kami, ini adalah aset negara. Dan bukan urusan kami jika ada pro-kontra dalam hal ini”, demikian Juru kunci situs , Agus Susanto (16/11) atau yang akrab saya panggil Pakde Agus menanggapi. Agus juga mengatakan siapapun punya hak untuk berkunjung kesini selama mengikuti aturan, tata-krama dan etika.

Kemudian saya bertanya, “Pakde, saat saya berkeliling, seolah terdengar riuh dan ringkik kuda-kuda.Sedangkan disini tidak ada kandang kuda”, Pakde tersenyum dan menjawab, “Bersyukurlah , Itu juga tanda bahwa tamu tamu beliau (Calon Arang) dari berbagai tingkatan dan jabatan yang datang ke padepokannya. Karena masyarakat biasa tidak mungkin saat itu mempunyai kuda”. Saya diam dan seolah berada dalam satu lapang luas dimana banyak Kuda terparkir diluar usai mengantar para tuan dan nyonya bertamu.
Disatu sisi , saya ingat beredar pula isu jika Calon Arang adalah pembelot dan ingin menjatuhkan Raja Airlangga, semua orang boleh saja berpendapat apapun namun bagi saya yang bodoh ini , dia (kalau memang ada) adalah seorang ibu biasa , ahli pengobatan/tabib yang mempunyai pelanggan/jamaah /masa banyak sehingga dikhawatirkan oleh para pembisik Raja Airlangga akan lebih populer dari Rajanya.
Kalaupun dia ada dan nyata, kita setuju yang ada disana serupa petilasan bukan makam karena sampai ini pun masih dibuktikan kapan dia wafat . Dan, wajar sebagai manusia modern banyak yang menganggap ceritera ini ‘dibuat-buat’ untuk kepentingan tertentu apalagi ada yang mengatakan jika dia adalah nenek sihir berwajah seram, namun banyak juga aktifis perempuan yang mengatakan bahwa Calon Arang adalah korban PATRIARKALISME, satu sistim dimana perempuan akan selamanya/harus dibawah pria dalam segala hal dan cilakanya isme itu telah ada di era Calon Arang. Perempuan tidak boleh lebih populer dari pria, itu contoh kecilnya.

Saya banyak juga mendengar jika situs Calon Arang di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini sering menjadi aksi vandalisme dan perusakan sejak thn.1965 lalu dan tidak terungkap siapa pelakunya. Beberapa artefak pun hilang dan rusak.

Suadara-saudara kita yang di Bali, kerap melakukan acara ritual berupa drama tari atau pertunjukan sakral lengkap dengan elemen-elemen magis dan mistis. Tokoh-tokoh penting seperti Rangda (wujud jahat dari Calon Arang) dan Barong (simbol kebaikan) muncul dalam pementasan ini. Ritual ini sering diadakan di pura atau tempat suci lainnya sebagai bagian dari upacara adat dan memiliki tujuan untuk memurnikan atau membersihkan sebuah wilayah dari kekuatan jahat atau energi negatif.
Jangan lupa, Kisahnya telah menjadi bagian dari pendukung ekonomi masyarakat karena berkembang dalam pentas tari, novel, drama, komik, sendratari, seminar,Televisi, Radio, media sosial, media online, talkshow bahkan film animasi.

Bagi saya yang bodoh, jikalau dia memang ada, dia adalah perempuan biasa, ahli pengobatan, disenangi tamu-tamunya dari berbagai kalangan. Saya meyakini ini hingga suatu saat ada data dan fakta valid yang mengatakan sebaliknya. Mohon maaf lahir bathin. Saya dan relawan Koranjokowi.com dan Koranprabowo.id tidak lupa menyampaikan hormat kepada Kades Sukorejo, Kecamatan Gurah, Supandi dan jajarannya karena tiada lelah mengawal situs ini juga melakukan pembangunan dan perbaikan atas infrastruktur area situs sejak 5 tahun lalu, semoga semua menjadi amal ibadah dan terbalaskan dengan sejuta kemuliaan, Aamiin YRA. Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan. ‘Adios.

” Don’t Look The Book Just from The Cover “
Nasihat bijak ini ternyata benar-benar luar biasa. Dalam artian bukan hanya sekedar ungkapan yang muncul begitu saja, namun makna yang terkandung luar biasa dalamnya. “Jangan menilai buku dari sampulnya” sama dengan “jangan menilai bobot atau nilai dari suatu hal dari penampilan luarnya saja” , dan itulah Calon Arang Ibu Legenda milik kita semua.
BERSAMBUNG
(PimRed/Ridy-Foto.ist)
