Koranprabowo.id, Unik :
Hari ini (16/11) , alhamdulillah sekitar pkl. 08.42 kami telah tiba di ‘Sendang Tirto Kamandanu’ warisan budaya para leluhur di Dusun Menang , Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Peninggalan Raja Kadiri/Kediri – Sri Aji Jayabaya (Jayabhaya) abad ke-12 silam, satu tempat “Patirtan” (mata air yang dianggap suci) dan kaputren atau tempat bermain putra–putri raja. Disini juga Jayabaya ‘membersihkan diri’ sebelum melakukan “Prama Mokhsa” (kembali menghadap Tuhan beserta dengan raganya).

Konon nama sendang (kolam) ini awalnya adalah Sendang Buntung atau Kali Buntung, dimana mata airnya berada disebelah kanan petilasan, kemudian tahun 1980 berganti menjadi Sendang Tirto Kamandanu (Kolam air yang memberikan kehidupan).

Ditempat ini kita dapat temui bangunan perpaduan 3 agama yakni Hindu, Buddha, dan Islam. Pada bagian patung di Sendang Tirto Kamandanu merupakan patung Hindu yang bernama patung Herihara, bagian depan patung yaitu Trimurti (Siwa, Brahma, Wisnu) dan bagian belakangnya patung Ganesha. Sedangkan pada gapura menggunkan corak Buddha, dan semua bangunan di bangun oleh orang Islam.
Disana juga ada petilasan Eyang Srigati dan pasangannya, Eyang Srigading, dimana ke-2nya adalah abdi kepercayaan Prabu Sri Aji Jayabaya dari Kerajaan Kadiri termasuk mengurus taman keputren / juru-kunci. Sebagian ceritera mengatakan ke-2nya mengikuti jejak Raja Jayabaya ‘moksa, maka ke-3 nya tidak mempunyai makam.

Raja Jayabaya atau Sri Warmeswara adalah Raja Panjalu – Kadiri tahun 1135-1159 M yang kemudian kemudian dikenal dengan ‘Ramalan Jayabaya’-nya, yang menyadari manusia bisa lupa, maka perlu ‘diperingatkan / di-ingatkan’ agar manusia tidak lupa masa lalu, saat ini dan mendatang. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.
Saat berkeliling saya bertemu seorang pria bernama ,initial WW – 67 thn pensiunan ASN kota Malang, Jatim. “Biasanya saya kesini setiap malam 1 shuro, tapi ini sengaja datang karena mau mandi dan ambil air untuk istri yang sedang sakit . Ikhtiar saja mas”, kemudian berlalu menuruni tangga. Saat ditanya kepada 2 siswi SMKN, mereka menjawab pulang sekolah, main saja. “Tadinya mau tanya sama mbah juru kunci, teman saya bilang jika kita mandi disini terus ritual maka keinginan akan tercapai. Namun jika berhasil maka pantang untuk kembali kesini lagi.“, saya diam mereka pun masuk ruang bilas.

Kembali ke Sendang Tirto Kamandanu, selain penyembuh dari penyakit airnya ini diyakini dapat meningkatkan kharisma dan kewibawaan seseorang, membuatnya disukai oleh banyak orang dan dilapangkan usaha dan rejekinya. Namun jangan coba-coba bagi mereka yang berhati kotor, akan ada ‘tulah’ yang dialami. Dan, seperti banyak tempat keramat lainnya, Sendang Tirta Kamandanu juga memiliki aturan tak tertulis. Para pengunjung disarankan untuk datang dengan hati yang bersih, menjaga tutur kata, dan tidak berniat buruk
BERSAMBUNG
(PimRed/Ridy/Foto.ist)
