Koranprabowo.id, Parekraf :
Candi Surawana / surowono adalah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi bercorak Hindu ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14, untuk memuliakan Bhre Wengker, paman sekaligus mertua Raja Hayam Wuruk. “Mungkin dibangun sekitar tahun 1390 – 1400-an, bahkan Raja Hayam Wuruk sempat menetap disini beberapa lama”, demikian Zainal Abidin – Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK/P3K) Kemenbud RI , saat ditemui (15/11) lalu di lokasi.

Dari Zainal pula banyak informasi yang kami dapat, diantaranya :
1.Nama asli dari Candi Surawana adalah Wishnubhawanapura dengan luas sekitar 8 x 8 meter ini merupakan pendharmaan dan tempat bersuci Bhre Wengker atau dikenal dengan nama Raja Wengker.
2.Pelestarian telah dilakukan sejak masa Hindia Belanda, N.W. Hoepermans dengan melakukan inventarisasi untuk pertama kalinya, selanjutnya dilakukan pemugaran oleh D.M Verbeek dan J. Knebel pada tahun 1908 dan dilanjutkan oleh P.J. Perquin pada 1915
3. Dalam Kitab Negarakrtagama, disebutkan bahwa Bhre Wengker adalah pembuka hutan Churabahna (Surawana) juga hutan Pasuruan, dan Pajang.

4. Saat masuk halaman terdapat banyak bongkahan batu-batu andesit seolah tanpa arti. “Itu adalah bekas bangunan candi yang telah lama runtuh. Seperti pada bagian atap yang sudah runtuh dan tak berbentuk lagi,” , jawab Zainal saat ditanyakan hal ini
5.Candi ini dibangun dengan menggunakan batu andesit berpori, bagian pondasinya menggunakan batu bata merah sedalam 30 cm dari permukaan tanah menghadap ke barat.
6.Banyak orang melakukan Meditasi di Candi Surowono selain karena suasana yang teduh dan damai, sehingga cocok untuk merenung dan melepas kepenatan, mencari ketenangan batin dan melepaskan stres.
7.Setelah COVID-19 jumlah kunjungan sepi namun yang melakukan meditasi bertambah, kata mereka dengan Meditasi dapat menjadi metode yang efektif untuk membantu pemulihan fisik dan mental pasca COVID-19, menambah keyakinan dan meningkatkan ketenangan mental secara keseluruhan.
8.Dinding candi dihiasi ukiran yang menggambarkan adegan-adegan mitologi Hindu, antara lain Sri Tanjung, Bubuksah-Gagang Aking, dan Arjunawiwaha. Sedangkan alasnya dihiasi dengan ukiran yang berkaitan dengan tantri, ghana, dengan elemen flora, fauna, atau upacara.
9.Selain sebagai tempat wisata, candi ini juga dianggap sebagai tempat yang sakral. Karena menjadi tempat ritual bagi penganut agama Hindu. Tak sedikit umat Hindu baik di Jawa Timur maupun dari Bali yang datang. Untuk melakukan ritual atau persembahyangan di sekitar candi.

Dan sebenarnya, pembangunan candi ini dulunya juga sebagai tempat peruwatan atau persembahyangan. Ketika umat Hindu melaksanakan persembahyangan di sini, maka candi sementara ditutup untuk umum. Supaya tidak mengganggu proses peribadatan dan sebagai bentuk toleransi antar umat beragama.

“Bagi spiritual, candi ini disebut pintu kawitan, seperti pintu gerbang sebelum mereka melakukan perjalanan spiritual lainnya khususnya ini diyakini oleh mereka yang dari Jawa Tengah. Bahkan Orang Kraton itu setiap bulan Shuro. mesti ada yang datang ke sini. Mereka juga menyebut disini ada buah “surawana” kemungkinan besar itu adalah buah Siwalan atau Buah Lontar yang hanya ada di Jawa timur termasuk di area candi ini”, tutup Zainal, gerimis mulai turun, kami pun pamit.
(@rief/Ridy-Foto.ist)
