Koranprabowo.id, Politik :
Jangan Pernah Doakan 98 Terulang Lagi
Ada yang sakit di kepala bangsa ini ketika membaca komentar-komentar netizen yang berharap tragedi 1998 terulang. Di tengah ricuhnya demo akhir Agustus 2025 ini, di mana rakyat turun ke jalan, gas air mata beterbangan, dan suara-suara kritis meledak di jagat maya, muncul juga suara-suara “pahlawan” papan ketik yang menganggap kerusuhan adalah satu-satunya jalan perubahan.
Mereka berharap reformasi lahir kembali dengan darah dan korban jiwa, seolah tragedi adalah tiket emas menuju kemajuan. Ini pemikiran yang bukan hanya keliru, tapi beracun.
Hegel pernah mengatakan bahwa kita belajar dari sejarah bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah. Namun, ini bukan fatalism, melainkan tantangan untuk melampaui siklus kebodohan kolektif. Tahun 1998 bukan sekadar cerita heroik mahasiswa menumbangkan rezim. Itu adalah masa di mana negara hampir runtuh. Harga-harga melambung, rupiah ambruk, rakyat lapar. Ribuan orang kehilangan pekerjaan, tabungan lenyap, usaha gulung tikar. Ada perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, ada darah tumpah di jalanan, dan ada trauma yang tak terbayar sampai hari ini.

Walter Benjamin menulis tentang “badai dari surga” yang menumpuk reruntuhan di hadapan malaikat sejarah. Kita tidak boleh salah memahami: kemajuan bukanlah hasil otomatis dari kehancuran. Reformasi datang bukan hanya karena keberanian, tetapi juga karena penderitaan luar biasa. Itu bukan dongeng heroisme yang pantas dirindukan, tapi sejarah kelam yang seharusnya membuat kita bertekad tidak pernah mengulangnya.
Mereka yang mendoakan pengulangan 98 terjebak dalam fallacy of the romantic revolution, kepercayaan keliru bahwa hanya melalui kehancuran total, kebenaran dapat muncul. Ini adalah pemikiran yang dangkal dan berbahaya. Camus dalam The Myth of Sisyphus mengingatkan kita bahwa manusia harus membangun makna di tengah absurditas, bukan menunggu apocalypse untuk menyelesaikan segalanya.
Kalau hari ini kondisi itu dipaksakan kembali, apakah bangsa ini siap? Ekonomi global tidak sama seperti 1998. Dunia sedang rapuh, teknologi menyebarkan kebencian lebih cepat dari suara kebenaran, dan polarisasi politik jauh lebih tajam. Jika chaos skala 98 terjadi sekarang, bukan hanya ibu kota yang terbakar, tapi keutuhan bangsa bisa retak. Investasi akan lari, lapangan kerja akan hancur, dan yang paling menderita bukanlah para elite politik yang bersembunyi di balik pagar tinggi, tapi rakyat kecil yang hidup dari upah harian.

Hannah Arendt berbicara soal banality of evil, bagaimana kejahatan besar sering lahir dari pikiran-pikiran kecil yang tidak bertanggung jawab. Berharap negara hancur agar lahir pemimpin baru adalah manifestasi dari ketidakmampuan berpikir konsekuensial. Ini bukan patriotisme, tapi nihilisme yang menyamar sebagai idealisme.
Inilah fakta pahit: kerusuhan tidak pernah menjadi jalan keluar. Ia hanya memakan korban yang tidak bersalah. Bangsa yang cerdas belajar dari sejarah, bukan mengulangnya. Nasionalisme bukanlah romantisme buta akan revolusi jalanan, tapi kemampuan menjaga negeri ini tetap berdiri tegak di tengah badai, seperti yang diajarkan Gramsci tentang optimism of the will di tengah pessimism of the intellect.
Kita boleh marah, boleh kritik pemerintah, boleh tuntut perubahan dengan suara lantang. Tapi berharap negara hancur agar lahir pemimpin baru adalah logika orang yang putus asa dan bodoh. Freud menyebut ini death drive, hasrat untuk kembali ke keadaan inorganik, ke kehampaan. Negara besar tidak dibangun dari reruntuhan yang disengaja, tapi dari tekad rakyatnya untuk memperbaiki sistem dengan cara yang beradab, terencana, dan strategis.

Sartre mengingatkan bahwa manusia dikutuk untuk bebas, dan dengan kebebasan itu datang tanggung jawab penuh atas pilihan-pilihan kita. Memilih kehancuran adalah bad faith, penolakan terhadap tanggung jawab untuk membangun alternatif yang lebih baik.
Lama kelamaan, cara berpikir sempit ini hanya membuktikan bahwa sebagian anak bangsa tidak layak memimpin perubahan. Nietzsche pernah menulis soal ressentiment, amarah yang tidak produktif yang lahir dari ketidakmampuan menciptakan nilai-nilai baru. Daripada membangun, mereka memilih menghancurkan karena tidak mampu bersaing dalam arena ide.
Kita harus maju, bukan mundur. Harapan kita bukanlah 1998 jilid dua, tapi Indonesia yang lebih matang, adil, dan sejahtera. Seperti yang ditulis Pramoedya dalam Bumi Manusia, kemajuan sejati datang dari pendidikan, kerja keras, dan komitmen pada kemanusiaan, bukan dari romantisasi kekerasan.
Jadi, berhentilah meromantisasi kekacauan. Yang negara ini butuhkan adalah orang-orang waras yang membangun, bukan orang bodoh yang mendoakan kehancuran. Karena pada akhirnya, seperti pepatah Jawa: wong kang pinter iku ora mung bisa nyritakke nanging uga bisa nglakoni, orang pintar bukan hanya bisa bercerita, tapi juga bisa melakukan.
(Foto.ist/Credit by Hanzizar )
