Koranprabowo.id, Imajiner :

Sore tadi bada solat azhar (25/3) Saya , Rahma – istri, Budi D. Ginting – Kord. Sumut dan tim Jabar III sudah ada di teras belakang Istana Cipanas, Jawa barat. Ada R. Iyan Mufti – Kord.Jabar III, Aris Muhtar, Wawan Kurniawan, Ariflutfi dan si bungsu ‘Deni Malik. Paduka Yang Mulia Ir.H. Sukarno Bin Raden Soekemi Sosrodihardjo sedang ada tamu diruang dalam, maka kami ditemani aspri paduka yang bernama Karina, sniper polwan Iran yang sedang magang disini.

Pada edisi sebelumnya , setelah tahu jika saya sudah punya istri, sifat Karina jadi judes. Waktu dia datang pun saya dan istri tidak disalami hanya Budi dan teman teman Jabar III. Kan Aneh ya?. Dia duduk depan saya tapi saat berceritra dengan Budi dan yang lain wajahnya menghadap mereka. Termasuk saat berceritera tadi siang sempat jatuh dekat kolam ikan istana karena mau menyelamatkan anak rusa yang tercebur sehingga celananya sobek tersangkut karang kolam. Saya mah cuek aja. Nggak ngaruh Ferguso,Ehehe.

Karina lupa jika bukan hanya celananya saja yang sobek, mukanya juga kotor lumpur. Tidak lama Paduka masuk disertai seorang wanita cantik bersahaja, idola kami, ‘Ibu Bandung’ , ya dialah Inggit Garnasih , anak dari pasangan Ardjipan dan Amsi lahir pada 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Banjaran, Bandung Selatan, Jawa Barat. “Maaf ya , saya sebetulnya kurang sehat, flu. Tapi karena sudah janjian sama kalian terpaksa saya keluar kamar”
Sambil membetulkan letak Scraft-nya, Ibu Bandung menyalami semua teman Jabar III, sedangkan Paduka kembali kedalam menemani tamu ‘istimewa, saat bersalaman dengan saya wangi parfumnya demikian elegan. “Arief sama mamih datang kerumah ya?”, tanya beliau sambil duduk disebelah Rahma. Saya mengangguk karena masih grogi. “Iya ibu, mamih, istri saya Rahma dan Budi D.Ginting – relawan Sumut. Maaf bu, kami juga numpang sholat dikamar ibu“. Beliau tersenyum

Dikamar ini kami sempat numpang sholat

“Lah teman teman Jabar III kok nggak ikut?”, Iyan Cs senyum pahit. “Insyallah bu, lain waktu kami pasti kesana, sedang sibuk rencana acara Klinik Hukum Astacita di Pelabuhan ratu mendatang”, jawab Iyan diamini yang lain. “Iya atuh main kesana, kalau bukan kalian siapa lagi yang mau perduli”, kemudian suasana demikian hangat. Ibu juga mengucapkan terima-kasih atas pemberian pakaian untuk Paduka dan Ibu gaya ‘Biru Tosqa’ yang memang buatan istri waktu lalu, disebut elegan karena nuansa biru tosqanya.
Sambil ngemil, Ibu dan teman teman tampak asik diskusi banyak hal. Si Karina judes pamit masuk ruangan, tapi dia sempat menyubit pipi saya. Ibu dan teman teman pun tertawa. Hanya istri saya yang cemberut. Kemudian Iyan Cs pun mempersiapkan kamera dan recorder Hp-nya sebagaimana rencana memang mau interview berliau. Berikut catatan besarnya;

1.Ibu Inggit dikenal sebagai sosok tegar yang menopang finansial dan emosional Paduka selama pengasingan sejak thn.1923–1942, membiayai kuliah di ITB, hingga mendukung perjuangan saat dipenjara Belanda, bahkan rela dimadu demi keturunan. Ia sosok “ibu bangsa” yang tak hanya menjadi istri, tetapi juga tulang punggung perjuangan Paduka selama masa-masa sulit.

2.Paduka menikahi Ibu Inggit pada 24 Maret 1923 di Bandung, setelah Inggit bercerai dari suaminya, Sanusi. Awalnya, Ibu Inggit adalah ibu kos Paduka saat mahasiswa ITB Bandung.
3.Selama 20 tahun bersama, Ibu Inggit bekerja keras membuat jamu, rokok, dan bedak untuk membiayai kebutuhan hidup dan perjuangan sang buah hati ‘Kusno’ panggilan sayangnya pada Paduka terutama saat dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin. Karena ketatnya penjagaan dan agar komunikasi tetap berjalan baik. Ibu banyak cara, pesan Paduka yang ditulis dalam kertas , digulungnya dan dimasukan dalam tape (Colenak) saat besuk, itu biasanya titipan untuk teman2 Paduka diluar sana. Ada juga dilintingan rokok ,dsb. Itupun berupa sandi-sandi. Ibu juga mendampingi Paduka di pengasingan Ende, Flores sejak 14 Januari 1934 – 1938, ke Bengkulu pada 18 Oktober 1938 hingga tahun 1942 sebelum dibebaskan pada masa pendudukan Jepang.

4.Pernikahan retak karena Ibu Inggit menolak dimadu saat Paduka ingin menikah lagi dengan Fatmawati demi mendapatkan keturunan. Mereka bercerai pada tahun 1942, disaksikan oleh Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantara. Meski berpisah, Ibu Inggit tetap menyimpan perasaan dan memaafkannya termasuk saat Paduka wafat thn.1970 Ibu datang melayatnya dengan tegar.
6.Atas jasanya, Ibu Inggit dianugerahi Satyalantjana Perintis Pergerakan Kemerdekaan pada 1961, dan rumahnya di Bandung kini menjadi cagar budaya. Sekarang nama jalannya adalah Jalan Inggit Garnasih No.8, Kec. Astanaanyar, Kota Bandung dan telah menjadi musium.

Disana , suasanya demikian ‘Ageng’, ada Ruang baca Paduka sat kuliah di ITB, ruang pembuatan bedak & jamu. Di ruangan inilah biasanya ibu membuat & meracik jamu & bedak yang nantinya akan dia jual kepada masyarakat sekitar UNTUK BEKAL PERJUANGAN. Di ruangan ini juga terdapat replika batu pipisan yang digunakan untuk membuat jamu & bedak, dsb.

Dari ruang pembuatan bedak & jamu, dan ruang kamar tidur. Di ruangan ini lah Paduka dan ibu inggit beristirahat. Di masing-masing ruangan terdapat foto-foto & sejarah perjalanan hidup dari Ibu Inggit Garnasih mulai dari lahir sampai akhir hayatnya.

Tiba-tiba terdengar Paduka memanggil Ibu, ibu pun bergegas. “Ibu pamit ya, lain kali ketemu. Mungkin tamu Bapak sudah selesai sholat, sudah waktunya makan. Nanti kalian makan dulu ya sebelum pulang sudah disiapkan Karina”, kami pun bersalaman takjim. Saya sempat berbisik, “Maaf bu tamu bapak siapa?”, “Sri Baduga Maharaja”, jawab Ibu. “Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran bu?”, saya balik tanya. Ibu menggangguk, “Subhanallah !”, jawab kami serentak. Ibu berlalu sambil mengatakan salam hangat untuk seluruh relawan Koranjokowi.com dan Koranprabowo.id.
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)

