Koranprabowo.id, Imajiner :
Matanya tetap garang kalau pun menyimpan lelah, seperti itulah saat saya menemui Presiden Ir. H. Sukarno (Paduka Yang Mulia/PYM), setelah putra sang fajar ini mendengar ada ‘gerakan’ yang akan memisahkan dirinya dengan rakyat yang dicintainya.
“Bagaimana cara kamu bisa masuk istana, bukankah digerbang sangat ketat penjagaan tentara Suharto, Rief?”, tanya Paduka kemudian saya ceritakan bahwa saya diminta menyamar sebagai ‘orang dapur’ oleh Jenderal KKO Hartono, dan anak buahnya yang membawa kesini. “Ya, Hartono itu orang baik, dia loyalis saya dan anti Suharto, dia memang keren”

“Memang secara legal tgl. 22 Februari 1967 jabatan Presiden telah ‘diserahkan’ kepada Soeharto berdasarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Setelah itu, MPRS mencabut kekuasaan saya selaku presiden dan menetapkan Soeharto sebagai penggantinya”, kata Paduka saat itu. Diluar tampak keriuhan para pengawalnya melakukan apel dadakan sebagai respon putusan ini termasuk para ajudan dan pegawai istana.

Jenderal KKO – Hartono
Masih dengan nada dingin, Paduka mengatakan dia meninggalkan Istana Negara pada bulan Agustus 1967, dimana pula diminta segera tinggalkan Istana Jakarta dalam 2×24 jam. Paduka memahami kegeraman dan kepanikan yang terjadi saat itu, saya hanya diminta duduk diteras istana tanpa kuasa apapun. Termasuk melarang memfoto semua itu oleh paduka.

Paduka memanggil asprinya, Niki mantan Kowad Korea yang setia menemaninya setiap saat. “Tugas kamu memastikan keluarga, ajudan dan pegawai istana tidak membawa barang apapun yang ada disini. Itu bukan hak kita itu punya negara”, kata Paduka, Niki memberi hormat. “Siap paduka”, kemudian berlari sambil melirik tajam kepada saya.
‘Lagh, kenapa lagi sih tu cewek?.

Disatu sisi saya teringat kasus Roy Suryo – mantan Menpora thn.2013-2014 yang diisukan membawa pulang lebih dari 3.226 item aset negara, meliputi barang-barang rumah tangga,milik Kemenpora saat masa jabatannya berakhir maka kemudian dijuluki relawan sebagai “Dewa Panci”.
Paduka meminta saya untuk mengambilkan makanan ikan koi kemudian menaburkannya di akuarium teras Istana, saya mencoba bertanya mengenai kasus pertemuan Prabowo – Megawati dan kasus Hasto Kristyanto yang dipenjara KPK. Paduka menggeleng, “Saya tidak sedang memikirkan itu Rief, masih banyak urusan bangsa dan negara yang lebih penting saat ini”, jawab Paduka, saya mengangguk-angguk.

Tak lama beberapa ajudan masuk dan bertanya, “Bapak tetap akan pergi?” , Paduka tersenyum dan menepuk pundak mereka. Mereka juga mengatakan bahwa beberapa temannya telah ditangkap dengan tuduhan memihak kepada G30S/PKI. “Kenapa Bapak tidak melawan?” , tanya mereka yang kebanyakan dari kesatuan KKO – Komando Korps Operasi TNI AL dalam posisi siap. “Siapkan segala sesuatunya baik-baik, jangan macam macam ya, kalian akan kembali ke kesatuan masing-masing, salam ku untuk keluarga kalian dirumah. Silahkan bubar”, dengan ragu mereka pun balik-kanan. Paduka menghela nafas.

Paduka menghampiri, “Ada rokok, Rief?”, saya menggeleng. Paduka masuk kedalam dan saat kembali telah memegang sebatang cerutu pemberian pemimpin Uni Soviet – Nikita Kruschev. Paduka juga memperlihatkan satu bungkus rokok Rusia bernama ‘Sobranie Black Russian, yang harganya USD.12,80 atau Rp 100 ribu – Rp 180 ribu/bungkus.

“Saya yakin yang pemberian Nikita ini sangat mahal, jika merk-nya Golden Opulence harganya – Rp 10 juta/batang karena dilapisi emas 24 karat. Bisa juga merk-nya Diamond Crown Maximus yang harga per-batangnya – Rp 5 juta/batang karena dilapisi berlian”, tambah Paduka. Saya menelan ludah.

Setelah duduk dihadapan saya Paduka mengatakan bahwa dia pun bukan perokok namun cerutu Sovyet ini selain mahal memang punya rasa yang berbeda , dilakukan dikala jika sendiri atau sedang menulis saja. “Dalam kegaduhan ini saya harus berpikir positip, Jika saya melawan, akan terjadi perang saudara. Perang melawan Belanda itu jelas, musuhnya beda. Tapi perang saudara? Tidak! Lebih baik aku yang hancur daripada bangsaku terpecah.”, saya terdiam, Paduka kemudian memberikan cerutu itu , “Hisaplah sedikit, saya lihat kamu stress, Rief”, saya pun menghisapnya perlahan, Paduka tersenyum.

Setelah saya agak terbatuk, Paduka mengambil kembali cerutu itu. Masih kata Paduka, tahun 1947 lalu sebatang cerutu yang pernah dihisap oleh mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill telah dilelang dan terjual dengan harga USD12 ribu (sekira Rp162 juta). Kemudian Paduka mematikan cerutu itu dan dibungkus dengan tissue dan diserahkan kepada saya, “Suatu waktu cerutu bekas saya ini bisa kamu lelang, mudah-mudahan bisa membantu operasional Koranprabowo.id, bukankah kamu punya niat untuk membuat studio podcast kan, Rief”, saya mengangguk sambil menyimpan diransel.
“Selain Churchil, Nikita, juga ada Jawaharlal Nehru – PM India yang gemar ber-cerutu mahal. Bercerutu dengan Nikita Sovyet/Rusia sebagai kebanggaan karena saya mampu memaki-maki Amerika Serikat yang mendikte Indonesia. Bantuan dari AS dinilai tidak tulus karena AS banyak maunya. Mereka juga menolak perebutan Irian Barat /Papua, tapi Nikita mendukung. Bercerutu dengan Nehru karena kami sama-sama sama-sama ingin menciptakan Asia yang bebas dari kolonialisme.Hahaha..”, kata Paduka.

Paduka kemudian pamit kedalam, Niki tiba-tiba muncul sambil membawa Teh panas dan cemilan cepuluh. “Merokok cerutu lagi, sok ganteng kamu!”, katanya kemudian berlalu.
‘Ini cewek kenapa sih?
-BERSAMBUNG-
(Red-01/Foto.ist)





