Koranprabowo.id, Profile :
Alhamdulillahirabil’alamiin, Rabu (29/10) bertempat dikediaman K.H. M. Faris Al Haq Fuad Hasyim (Gus Faris), Pengasuh PP Nadwatul Ummah Buntet, Kab. Cirebon. Direktur Bisnis PT.AJB Bumiputera 1912, Dr. Sugito, SE, M.Si dan teman-teman dari Panitia Haul XXI Prof. DR. KH. MA. Fuad Hasyim , Lomba Film Pendek Antar Santri Se-Jawa barat thn.2025 dan Koranprabowo.id terasa ‘reuni keluarga’
Beberapa catatan yang dapat kami simpulkan sbb,
PERTAMA, Gus Faris bersama tim kreatif Koranprabowo.id sedang menyusun rencana produksi film kolosal mengenai sosok kakeknya, alm. Kyai Abbas Abdul Jamil (Kyai Abbas Buntet) pendiri dan pengasuh Pondok Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, yang dijuluki ”Singa dari Jawa Barat” , panglima perang pertempuran Surabaya tgl. 10 November 1945.

“Sudah banyak pihak yang ‘merapat, termasuk relasi dan kolega di LN namun saya masih pilih-pilih mitra. Saya mau ini film kolosal, tidak asal-asalan. Sehingga layak menjadi tontonan wajib diseluruh pesantren Indonesia. Insyaallah di Hari Santri tahun 2026 mendatang ini rampung bahkan sudah dipersiapkan acara kirab sejak Buntet Cirebon hingga Surabaya, melalui banyak kabupaten dan kota. Insyallah”, kata Gus Faris putra KH. Prof Dr MA Fuad Hasyim (Gus Hasyim, pendiri sekaligus pengasuh pertama PP. Nadwatul Ummah, Buntet, Kab. Cirebon).

Masih kata Gus Faris, saat perang Surabaya itu dalam ‘manuscript (hasil tulisan tangan) musium Belanda disebutkan ada lebih 150 pesawat mereka yang jatuh dan hilang entah kemana, namun kami yakini semua ini terjadi atas kehendak Allah SWT setelah Kyai Abbas Buntet ‘menembak-nya’ dengan butiran kacang hijau. “Ini salah satu yang akan saya angkat dalam film kolosal itu”

KEDUA, AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asli pribumi yang lahir berkat sumbangsih tiga guru yang menjadi pelopornya, yaitu ‘3 SERANGKAI’ ; M.Ng. Dwidjosewojo, MKH Soebroto, dan M. Adimidjojo dalam Kongres Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) di Magelang, 12 Februari 1912. Mereka juga dikenal sebagai ‘Ketiga orang iniah yang kemudian dikenal sebagai “tiga serangkai” pendiri Bumiputera, sekaligus ‘peletak batu pertama industri asuransi nasional Indonesia’

Tidak seperti perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) – yang kepemilikannya hanya oleh pemodal tertentu; sejak awal pendiriannya Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha “mutual” atau “usaha bersama”. Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan – yang mempercayakan wakil-wakil mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk mengawasi jalannya perusahaan. Asas mutualisme ini, yang kemudian dipadukan dengan idealisme dan profesionalisme pengelolanya, merupakan kekuatan utama Bumiputera hingga hari ini.

AJB Bumiputera 1912 memiliki 25 kantor wilayah dan lebih 465 Kantor Cabang yang tersebar diseluruh Indonesia. Sebagai perusahaan asuransi yang berpengalaman lebih dari satu abad, dalam 10 terakhir tercatat perusahaan telah membayar klaim lebih dari Rp. 30 triliun kepada 96.000 ribu baik pemegang polis perorangan dan grup/kolektif.

M. Ng Dwidjosewojo, MKH Soebroto dan M. Adimidjoyo
KETIGA, Gus Faris sebelum menutup ‘Reuni Keluarga’ ini mengatakan ‘siap memperjuangkan AJB Bumi Putera 1912’ dalam segala hal. “Ini perusahaan milik kita semua, saya pun pemegang polis. Perusahaan ini saya anggap konsisten dalam pengurusan klaim dsb. Ini aset bangsa ditengah persaingan global , tidak mungkin saya diam saja. Semangat perusahaan ini sejak tahun 1912 mengingatkan saya kepada Nadlatul ulama yang hidup matinya untuk bangsa dan negara besar ini“
Allahu akbar, insyaallah, aamiin yra.
SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA THN.1928 – 2025 & 10 NOVEMBER 1945 – 2025.
KITA INDONESIA !

(Red-01/Foto.ist)
