Koranprabowo.id, Politik :
Setelah lama tidak mendengar kabar Bapa Aing – Gub.Jabar, Dedi Mulyadi , tadi sore (16/9) saya dikirimi link Youtube yang berisi pidato Bapa Aing di Rapat Paripurna HUT Karawang ke-392, Minggu (14/9/2025) lalu , dimana dalam pidatonya, Bapa Aing juga bicara tentang tragedi di Nepal.
“Ini saya ingatkan, kenapa ini terjadi. Nepal itu bisa menggerakkan massa dan menjatuhkan. kita belum seberapa dibandingkan Nepal. Kita masih terjaga, masih aman. Tetapi ini menjadi alarm sosial bagi kita. Mari kita ubah gaya kepemimpinan kita, mari kita ubah gaya penganggaran kita,” lanjutnya.


NEPAL, sebuah negara diantara pegunungan Himalaya dengan ibukota Khatmandu berbatasan dengan Tibet, Tiongkok di utara dan India di timur dan selatan. Awalnya berupa kerajaan yang berdiri sejak 25 September 1768 dan menjadi Republik sejak tgl. 28 Mei 2008. Berpenduduk lebih dari 30,6 juta jiwa. Atau sebanyak penduduk di Prov. Jateng – 37,8 juta. Lebih kecil dari penduduk Jabar – 50,3 juta, atau Jatim – 41,8 juta. Namun lebih banyak dari penduduk Sumut – 15,5 juta, Banten – 12,4 juta dan Jakarta – 10,3 juta.

Kemiskinan di Nepal hingga thn.2024 lalu mencapai lebih dari 20% jumlah penduduk, juga pengangguran usia mudanya bahkan hampir mencapai 22%. Kekacauan sosial , ekonomi dan politik ini menyebabkan muncul ‘Gerakan Gen-Z’ sejak tgl. 8 September 2025. Aksi awalnya dipandang penguasa sebagai aksi biasa namun kemudian berubah menjadi kerusuhan besar.
Mungkin saja aksi di Nepal dan Prancis (10/9) lalu ini ‘mengikuti’ aksi di Indonesia Tgl.25-30/8/2025. Kalau pun kita malu karena isu kita lebih buruk yaitu ‘memaksa DPRRI segera mensahkan UU Perampasan aset’ yang identik dengan korupsi. Dimana juga Indonesia telah lama dikenal sebagai negara ke-37 dari 180 yang mendapat skor buruk tentang peringkat negara korupsi.

Di Nepal, Korban tewas lebih dari 51 orang, tidak tercatat yang luka dan hilang. Selain ini kerugian ekonomi pun demikian tinggi, untuk kerugian infrastruktur lebih dari Rp.2,2 triliun, dsb. Di tengah kerusuhan, Perdana Menteri Nepal – Sharma Oli mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan. Kemudian digantikan oleh mantan Ketua Mahkamah Agung – Sushila Karki sebagai perdana menteri sementara (interim). Juga sebagai perempuan pertama yang memimpin pemerintahan Nepal. Menariknya pemilihan ini menggunakan platform Discord/E-vote yang mayoritas didominasi usia muda Nepal. “Parlemen Nepal saat ini adalah Discord,”, itu kata mereka.


Discord adalah buatan AS sejak thn. 2015 yang kini memiliki lebih dari 150 juta pengguna diseluruh dunia yang diawali sebagai platform game. Di Nepal diperkirakan lebih dari 1,45 juta pengguna inilah yang mereka pakai untuk E-voting/ polling daring selama sepekan.
Sebagai informasi, Discord awalnya kerap digunakan komunitas gamer. Dengan fitur yang mendukung streaming layar dan pembuatan server pribadi, Discord memberikan pengalaman interaktif yang memudahkan gamer berkolaborasi, berbagi strategi, dan tetap terhubung selama bermain.

Sehingga muncul pertanyaan kita kemudian akankah era E-Voting ini dapat diterapkan di Indonesia baik untuk Pilkada atau Pilpres 2029 mendatang?, karena E-voting mampu menjawab permasalahan yang selama ini terjadi ;undangan ganda, surat suara sisa yang rawan disalahgunakan, hingga Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang kerap bermasalah. Juga anggaran Pilpres pun cukup besar seperti tahun 2024 sekitar Rp.71 triliun, Pilpres thn.2019 – Rp. 25 Triliun lebih, Pilpres thn.2014 – Rp. 8 triliun lebih, dsb. Lalu berapa lagi anggaran untuk Pilpres 2029 yad?
Saya tidak paham apakah BRIN – Badan Riset dan Inovasi Nasional atau lembaga terkait telah ‘memikirkan’ konsep seperti ini atau belum?, yang saya pahami saat pemilihan Ketum PSI lalu mereka mampu menghasilkan Pilketum yang tranparan, obyektif , profesional dan murah biaya. Yaitu dengan aplikasi E-voting dalam Pemilihan Raya PSI-nya.
Dari Nepal kita jangan malu untuk ‘belajar’ agar selangkah lebih maju dalam hal E-Voting Pilkada, Pilpres hingga pemilihan ketua RT sekalipun . Yang jauh dari manipulasi suara, angka dan berbagai kecurangan lainnya. Bukankah kita juga berniat untuk efisiensi anggaran?, Eheheh.
(Red-01/Foto.ist)
