Koranprabowo.id, Profile :
Jika waktu lalu (25/10) Mas Wapres Gibran rakabuming raka menyempatkan diri berziarah ke makam K.H. Abbas Abdul Jamil (Kyai Abbas Buntet), seorang sesepuh dan pengasuh pondok pesantren (ponpes) Buntet yang merupakan pesantren tertua di Indonesia.
Alhamdulillah, hari ini (14/11) saya menyempatkan hadir juga kesana, kemakam “Sang Macan dari Barat”, hal itu karena perannya yang sangat besar dalam perjuangan pada 10 November 1945 melawan penjajah di Surabaya.

Kyai Abbas Buntet bagi saya pribadi dan istri (Septi Handayani) adalah ulama yang sakti mandraguna. Karena dari beberapa ceritera syahih beliau dalam pertempuran Surabaya, tgl. 10 November 1945 lalu dalam perangnya hanya ‘bermodal’ bakiak, sorban, tasbih, hingga kacang hijau untuk menjatuhkan lebih dari 150 pesawat tempur Belanda saat itu. Orang boleh tidak percaya, namun para Kyai, santri dan warga Nahdliyin mengakui itu semua.
Sayangnya kali ini lagi pemerintah, melalui presiden Prabowo belum juga memberikan gelar sebagai pahlawan nasional tgl.10 November 2025 di Istana lalu. Selain dalam bidang kanuragan dan bela diri, sosok Kiai Abbas juga merupakan pengamal tarekat. Beliau merupakan Mursyid Tarekat Syatariyah, mengambil sanad dari ayahnya, KH Abdul Jamil.

PimRed pernah mengatakan bahwa banyak kisah beliau yang terlupakan salah satunya, beliau juga adalah terlibat dalam Sumpah Pemuda dan mengusulkan Bahasa Indonesia masuk dalam kurikulum pesantren di Buntet. Juga beliau dengan pasukannya (Hisbullah) sering diminta untuk membantu pasukan lain seperti di Tanjung Priok Jakarta, Cikampek, Kuningan dsb.

Beliau juga diangkat menjadi anggota Batalyon 315/Resimen I/Teritorial Siliwangi dengan pangkat Letnan Muda. Dan, beliau merupakan pelopor pendidikan pesantren modern karena memperkenalkan sistem klasikal madrasah sejak tahun 1920-an.
K.H. Abdullah Abbas lahir di Buntet Cirebon, Jawa Barat, 7 Maret 1922 dan wafat tgl.10 Agustus 2007 (umur 85), Barat. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Tentara (RST) Ciremai pada hari Jumat (10/8/2007) lalu pukul 04.30 WIB, seminggu sebelum peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-62. Lebih dari 3000 orang mengiringi beliau keharibaan Illahi di Pemakaman Keluarga Buntet Pesantren atau TPU Gajang Ngambung di Desa Buntet, Astana Japura, Kabupaten Cirebon

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu waj’alil-jannata matswahu. Allahumma-abdilhu daran khairan min darihi, wa zaujan khairan min zawjihi wa ahlan khairan min ahlihi. Allahumma innahu nazala bika wa anta khairu manzulin bihi. Allahumma akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu.
“Ya Allah, ampunilah almarhum, berilah ia rahmat-Mu, kesejahteraan, serta maafkanlah kesalahannya, dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya. Ya Allah, gantikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, istri yang lebih baik dari istrinya dahulu dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya dahulu. Ya Allah, ia telah tiba di sisi-Mu dan Engkaulah sebaik-baik tempat untuknya. Ya Allah, muliakanlah keturunannya dan lapangkanlah pintu masuknya.”
‘Aamiin yarabil’alamiin.
(Foto.ist)
